Header Pengetahuan Detail

Pemanasan Global Adalah Sebuah Mimpi Buruk!

  01 Apr 2019     430 kali
Prolog
 
Rasanya judul artikelnya kedengaran berlebihan, ambisius dan emosional banget yah. Tapi tenang, artikel ini bukan clickbait kok. To tell you the truth, pemanasan global emang beneran mimpi buruk. Kalo kalian ngerasa mimpi dimarahin bos lebih buruk dibanding pemanasan global, artinya kalian belum tau nih gimana seremnya pemanasan global. Gimana mau tau seremnya kalo pemanasan global aja kalian belum tau itu apa. Ya kan ya kan? Ayo ngaku!
 
Nah biar tau, baca artikel ini sampe habis lalu resapi maknanya dalam-dalam. Kalo perlu, share artikelnya ke grup WA keluarga besar, grup karang taruna, grup alumni SD, SMP dan grup-grup lainnya, biar makin banyak orang yang tau. Ashedaap..
 
Pemanasan Global vs Pidana Korupsi
 
Kalo kalian nanya apa sih hubungan pemanasan global dengan pidana korupsi, jawabannya ya ga ada. Kenapa ga ada? Karena secara definisi, pemanasan global adalah sebuah fenomena meningkatnya temperatur bumi secara perlahan tapi konsisten sebagai akibat dari tingginya kandungan gas rumah kaca (terutama CO2) yang menumpuk di atmosfir bumi kita. Jadi clear ya pemanasan global dan pidana korupsi sama sekali ga ada hubungannya.
 
Dari definisi pemanasan global tadi, bisa dibilang kalo bumi itu semakin hari semakin panas, dan yang jadi penyebabnya adalah gas rumah kaca. Gas rumah kaca tuh binatang apa pula sih?! Gas rumah kaca tuh sebutan buat gas-gas yang bisa menimbulkan efek rumah kaca ketika gas-gas tadi ada di atmosfer.
 
Efek Rumah Kaca apaan sih? Nama band kan ya?
 
“Bentar bentar, ini kok jadi ngebingungin sih? Ada pemanasan global, ada gas rumah kaca, terus sekarang ada lagi efek rumah kaca. Ini hubungannya apaan? Pusing saya jadinya’’
 
Kalo kalian berpikiran kaya yang di atas alias kebingungan, ya sama, saya juga bingung ini gimana ngejelasin keterkaitannya. Gini deh, mari kita bermain analogi. Kalian tau rumah kaca kan? Itu loh yang sering ada di taman-taman atau di daerah perkebunan. Rumah kaca fungsinya buat ngejaga temperatur tanaman-tanaman yang ada di dalamnya agar selalu hangat, kaya yang ada di gambar di bawah ini.
 
Gambar 1. Rumah kaca yang dipakai buat tanaman[1]
 
Coba bayangin kita punya dua tanaman, satu tanaman ditaruh di dalam rumah kaca (Tanaman 2), satunya di luar (Tanaman 1). Pas matahari bersinar, kan kedua tanaman tadi nerima panasnya tuh, temperaturnya sama-sama naik dong. Bedanya, total panas yang bener-bener diserap Tanaman 1 lebih kecil dibanding Tanaman 2. Kok bisa? Ya bisa lah masa gabisa, soalnya udah jadi hukum alam kalo setiap benda, termasuk tanaman, memancarkan panas ke lingkungannya.
 
Dengan kata lain, masing-masing tanaman tadi ga cuma menyerap panas, tapi mereka juga memancarkan panas. Artinya, jumlah panas netto yang diserap adalah: Jumlah panas yang diterima tanaman dari matahari, dikurang jumlah panas yang dikeluarin masing-masing tanaman ke lingkungan.
 
Panas yang dikeluarin Tanaman 1 bisa bergerak bebas sesuka hati mereka ke lingkungannya karena ga ada materi lain yang menahan pergerakan panas tersebut. Temperatur Tanaman 1 pun turun sebagai konsekuensi dari keluarnya panas tadi. Tapi, di Tanaman 2, panas yang keluar ga diizinin gerak lebih jauh sama si rumah kaca alias si rumah kaca ini menahan panas yang dipancarkan Tanaman 2, jadinya ya panasnya ga ke mana-mana alias di situ-situ aja. Karena panasnya kekumpul di sekitar Tanaman 2, akhirnya si panas tadi bisa balik lagi ke Tanaman 2. Artinya, dengan adanya rumah kaca, potensi penyerapan panas dari matahari oleh tanaman jadi lebih besar.
 
Gas Rumah Kaca, kamu kok tega sama aku?
 
Sekarang coba bayangin si Tanaman 2 tadi sebagai bumi, rumah kaca sebagai gas-gas rumah kaca di atmosfir, dan matahari sebagai sumber panas. Setiap harinya, bumi menerima panas dari sumber panas (bisa matahari, bintang, planet-planet lainnya, asteroid, pokoknya apapun dah) dan juga memancarkan panas ke Outer Space (biasanya melalui radiasi, coba googling deh!).
 
Keseimbangan antara panas yang masuk ke system bumi dengan panas yang keluar dari system bumi menjadikan temperatur bumi ideal dan ‘’hangat’’ untuk menjadi habitat bagi makhluk hidup. Tapi, setelah negara api menyerang alias ketika jumlah gas rumah kaca di atmosfer mulai meningkat, kekacauan mulai terjadi.
 
Sebenernya nih ya, dari dulu juga gas rumah kaca emang udah ada di atmosfer, mungkin sejak atmosfer pertama kalinya terbentuk dan menyelimuti bumi. Bisa jadi si gas rumah kaca ini juga ikut berperan dalam menjaga keseimbangan temperatur di bumi. Tapi, yang jadi masalah adalah jumlah gas rumah kaca, terutama CO2, cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan di tahun 2013, NASA ngumumin bahwa jumlah CO2 di atmosfer kita mecahin rekor tertinggi dalam 400 ribu tahun terakhir[2] (OMG!!).
 
Lebih seremnya lagi, jumlah CO2 masih tetep ningkat loh sampai sekarang, hadeeeh. Per Februari 2019, NASA ngelaporin jumlah CO2 di atmosfer sebesar 411 ppm yang mana di tahun 2013, jumlah CO2 kira-kira di kisaran 400 ppm (kalian bisa cek sendiri di https://climate.nasa.gov/vital-signs/carbon-dioxide/)
 
Dan sekarang pertanyaannya adalah kok bisa sih jumlah CO2 alias gas rumah kaca meningkat terus? Jawabannya karena perbuatan manusia itu sendiri. Pembangkitan listrik, transportasi dan industry manufaktur digadang-gadang sebagai tiga aktifitas manusia yang bertanggung jawab terhadap tingginya CO2 di atmosfer. Kenapa? Karena tiga-tiganya mostly masih secara masif ngegunain bahan bakar fosil (batubara, bensin, solar, dll) sebagai bahan bakar utama., terutama di negara-negara berkembang.
 
Gausah jauh-jauh lah, kendaraan kalian semuanya masih pake BBM kan? Tau lah ya kalo penggunaan bahan bakar macem gitu tuh ngeluarin gas buang yang biasanya warna hitam, atau putih juga ada sih. Nah salah satu kandungan dari gas buang tuh ya si CO2 itu yang kemudian dia akan bergerak ke atas menuju atmosfer sana.
 
Eh iya, selain ketiga aktifitas manusia yang udah dijelasin barusan, ada satu lagi nih yang juga punya peran besar dalam peningkatan jumlah CO2 di atmosfer. Siapakah dia? Jawabannya adalah penggundulan hutan atau deforestasi. Kok bisa? Kalian pasti pernah belajar biologi kan, tau dong kalo tumbuhan bisa nyerap CO2 di atmosfer buat fotosintesis, ya gak? Nah kalo hutannya digundulin, terus siapa dong yang mau nyerap CO2 di atmosfer? Emisi CO2 nya ningkat, yang nyerapnya malah berkurang. Kurang patetik apa lagi coba?
 
Oke,, sekarang kalian udah tau situasinya kalo emisi CO2 (sekarang bilangnya CO2 aja deh, jangan gas rumah kaca, biar simple, judul bagian ini perlu diganti ga ya? Gausah lah ya..hehe) tuh meningkat terooos gara-gara aktifitas manusia tadi. Terus kalo meningkat dan menumpuk di atmosfer kenapa? Coba deh liat gambar di bawah.
 
Gambar 2. Ilustrasi Pemanasan Global[3]
 
Seperti halnya peran rumah kaca di Tanaman 2, si CO2 di atmosfer memperangkap panas yang harusnya keluar dari bumi ke luar angkasa, dan kemudian dibalikin lagi ke permukaan bumi. Makin banyak CO2, makin banyak panas yang ga bisa keluar dari bumi. Panas netto yang diserap bumi jadinya naik deh. Keseimbangan panas yang masuk dan keluar dari bumi keganggu, titik ekuilibrium bergeser. Akibatnya apa? Ya bumi menjadi sebuah system yang mulai gak ideal bagi penghuninya. Dia menjadi terlalu hangat bagi kita-kita dan makhluk hidup lainnya, sedih akutuu L.
 
Jangan lebay lah, kalo bumi jadi terlalu hangat emang kenapa? Paling jadi gerah dikit, no problemo lah!
 
Ya ga sesederhana itu juga, Ferguso. Jadi pas tahun 2015, kurang lebih 196 negara mengirimkan para ahli-ahli lingkungan (sebenernya ga cuma ahli lingkungan sih, ada diplomat juga dan negosiator lainnya) ke Paris untuk berpartisipasi di konferensi iklim tahunan yang diselenggarain PBB[4]. Kumpul-kumpul tersebut menghasilkan sebuah kesepakatan yang dinamakan Paris Agreement yang kurang lebih tujuannya adalah untuk mencegah kenaikan temperatur bumi lebih dari 2o C relative terhadap rata-rata temperatur bumi pada saat sebelum revolusi industry (yang 1.0 ya, bukan 4.0, jadi yaa sekitar akhir abad 18 lah).
 
Eh bentar, kenapa acuannya terhadap tahun sebelum revolusi industry ya? Sek sek tak inget-inget dulu. Oh iya, ya karena sebelum revolusi industry, penggunaan bahan bakar fosil masih ga signifikan. Penemuan mesin uap oleh James Watt di tahun 1776 memicu revolusi industry dan berdampak pada penggunaan mesin-mesin uap yang luas dalam aktifitas-aktiftas yang sebelumnya dilakukan dengan mengutilisasi tenaga manusia atau tenaga hewan. Konsekuensinya, penggunaan bahan bakar fosil mulai marak setelah revolusi industry, emisi CO2 di atmosfer dan temperatur bumi mulai nunjukin trend yang meningkat. Makanya, in terms of lingkungan dan temperatur, masa-masa sebelum revolusi industry dianggap sebagai kondisi yang ideal dan bisa dijadiin referensi.
 
Oke back to topic. Sebelumnya di bagian atas-atas dibilang kan ya kalo bumi mulai menjadi terlalu hangat buat kita-kita. Pasti di bayangan kalian, terlalu hangat tuh artinya temperaturnya naik 10oC atau 20oC, atau bahkan lebih, pokoknya drastis lah. Ya ga? Kalo iya, harusnya kaget dong kalo ternyata dalam Paris Agreement, yang disepakati cuma naik 2oC doang. Ah kalo segitu doang mah sepele, apanya yang mimpi buruk??? Hehehe tunggu dulu brothers and sisters, kalem. For your fyi, di tahun 2017, posisi temperatur bumi kita tuh sekitar 1oC lebih tinggi relative terhadap temperatur bumi pas sebelum revolusi industry[5][6].
 
Seberapa parah sih emang dampaknya kalo kenaikan temperatur bumi mencapai 2oC? Sebuah majalah kenamaan Amerika Serikat yaitu New York Times sempet bikin rangkuman terkait apa yang akan terjadi pada bumi kita kalo kenaikan temperature mencapai 2oC[7]. Referensi yang dipake New York Times buat bikin rangkuman tersebut adalah dari Special Report yang diterbitin Intergovernmental Panel On Climate Change (IPCC) di tahun 2018. IPCC ini merupakan sebuah organisasi bentukan PBB yang fokus dalam masalah pemanasan global dan perubahan iklim. Jadi seberapa mimpi buruk kah dampak kenaikan temperatur 2oC alias si pemanasan global ini?
 
Yang pertama dan yang paling terkenal adalah melelehnya laut es di kutub. Kalo kenaikan temperatur 2oC ini tercapai, diprediksikan udah ga ada lagi lautan es di Kutub Utara pas musim panas. Udah serem belum? Kurang serem? Oke deh, yang ini dijamin serem, yaitu kenaikan level permukaan air laut. Bayangin kalo ini terjadi di Indonesia yang menurut BPS sekitar 15.61% wilayah administrasi setingkat desa/kelurahan berada di tepi laut[8]. Lalu apa yang terjadi sama wilayah-wilayah itu? Ya bisa tenggelam.
 
Ada lagi ga yang lebih serem? Ya ada dong. Pemanasan global bisa menyebabkan kekeringan alias kekurangan air. Hal ini bisa berkaitan dengan nurunnya produktifitas sector pertanian, terutama di daerah Asia Tenggara. Artinya, kedaulatan pangan sangat terancam. Terus yang ga kalah seremnya adalah makin sering dan intensnya fenomena gelombang panas atau heat waves. Heat waves ini sederhananya adalah sebuah fenomena ketika cuaca terasa panas banget alias ga normal panasnya dan berlangsung lebih dari dua hari[9]. Diperkirakan kenaikan temperatur rata-rata bumi sebesar 2oC menyebabkan 37% dari populasi dunia kena dampak heat waves[7].
 
Heat waves ini bahaya banget buat kesehatan terutama bagi mereka yang masih balita dan mereka yang udah memasuki usia senja. Salah satu peristiwa heat waves yang paling terkenal adalah yang terjadi di Eropa tahun 2005 yang makan korban sebanyak 70 ribu jiwa[11]. Selain yang terjadi di Eropa, peristiwa lain yang ga kalah terkenalnya adalah yang terjadi di India tahun 2013. Kurang lebih 2300 orang meninggal gara-gara heat waves tersebut[10]. Tahun 2018 juga mencatat kejadian heat waves di Pakistan dan Australia. Di Pakistan, temperatur lingkungan kecatet mencapai 44oC yang berlangsung selama 3 hari, gila sih ga kebayang gimana rasanya. Oh iya, korban yang meninggal gara-gara itu sekitar 65 orang[12]. Di akhir tahun 2018 atau yang artinya baru-baru ini, heat waves juga menyerang Australia, lebih tepatnya di Adelaide yang mencatat temperatur 46.6oC[13].
 
Heat waves ternyata ga cuma melanda daratan loh, btw. Kemungkinan terjadi heat waves di lautan, dikenal dengan sebutan marine heat waves, sebagai akibat dari pemanasan global juga sangat tinggi. Ilmuwan memperkirakan lautan menyerap lebih dari 90% panas yang diperangkap oleh gas rumah kaca di atmosfer[14]. Ocean heat waves sangat mengancam ekosistem laut kaya ikan-ikan dan terumbu karang, termasuk orang-orang yang menggantungkan perekonomiannya pada hasil laut. Konsekuensi dari kenaikan temperatur 2oC adalah binasanya terumbu karang[7].
 
Di Amerika Serikat, ada sebuah program yang dinamain The U.S. Global Change Research Program (USGCRP). Program ini diberi amanat oleh Kongres Amerika Serikat untuk mengkoordinasi riset dan investasi di bidang lingkungan. Nah, salah satu agenda dari USGCRP adalah bikin laporan empat tahunan terkait pemanasan global dan dampaknya terhadap Amerika Serikat. Dalam laporan yang terbit tahun 2017, dinyatakan bahwa pemanasan global dan perubahan iklim bisa berdampak pada penurunan GDP Amerika Serikat sebesar 10% di tahun 2100[15].
 
Itu Amerika loh, yang notabene negara adidaya dengan perekonomian yang kuat. Dampak pemanasan global terhadap perekonomian Indonesia mungkin bisa lebih buruk lagi. Gimana? Udah cukup lah ya menggambarkan ngerinya dampak pemanasan global ini.
 
Epilog
 
Seorang filsuf kenamaan Jerman bernama Gottfried Wilhelm Leibniz pernah bilang kaya gini “This is the best of all possible world”. Artinya, menurut Leibniz, dunia yang diciptakan Tuhan ini adalah dunia yang paling terbaik dari segala alternative dunia yang ada. Nah, setelah disampaikannya fakta-fakta mengerikan tentang dampak pemanasan global, masih mau bilang kalo dunia ini adalah dunia yang terbaik? Hmmm, ya jelas masih mau dong karena dunia ini emang yang terbaik.
Tuhan, sebagai Dzat Yang Maha Kuasa, tentunya telah menjadi arsitek dan engineer terbaik yang tidak berarti apapun lainnya jika dibandingkan denganNya.
 
Tuhan merancang bumi kita ini sedemikian rupa agar manusia selalu bisa mendapatkan manfaat darinya. Tapi, manusia, sebagai khalifah di muka bumi, jangan sampai take it for granted. Karena bumi udah baik sama kita, ya kita juga harus baik sama bumi. Dengan demikian, pemanasan global bisa dicegah. Emang gimana caranya mencegah pemanasan global? Nantikan di artikel selanjutnya ya, hehehe. Ya cukup sekian lah artikel ini, udah kepanjangan kayanya. Semoga setelah baca artikel ini, awareness kalian terhadap pemanasan global bisa meningkat ya. Shedaaap. Yuk ah cusss.
 
Sumber

[1] https://news.trubus.id/baca/23337/4-manfaat-rumah-kaca-dalam-berkebun

[2] https://climate.nasa.gov/climate_resources/24/graphic-the-relentless-rise-of-carbon-dioxide/

[3] http://www.global-greenhouse-warming.com/graphs-diagrams-of-global-warming-and-climate.html

[4] https://unfccc.int/news/finale-cop21

[5] https://www.eea.europa.eu/data-and-maps/daviz/global-average-air-temperatur-anomalies-4#tab-dashboard-01

[6] https://climate.nasa.gov/vital-signs/global-temperatur/

[7] https://www.nytimes.com/interactive/2018/10/07/climate/ipcc-report-half-degree.html

[8] Badan Pusat Statistik. (2017). Statistik Sumber Daya Laut dan Pesisir. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

[9] https://www.britannica.com/science/heat-wave-meteorology

[10] https://edition.cnn.com/2015/06/01/asia/india-heat-wave-deaths/index.html

[11] https://www.climate.gov/news-features/event-tracker/summer-heat-wave-arrives-europe

[12] https://dailytimes.com.pk/245532/another-3-day-heatwave-to-hit-karachi-from-tuesday-pmd/

[13] https://www.news.com.au/technology/environment/adelaide-in-the-grip-of-potentially-its-hottest-day-on-record/news-story/fe3ee360aa41cd52588ba2e6f349b892

[14] https://www.nytimes.com/2019/03/04/climate/marine-heat-waves.html?rref=collection%2Fsectioncollection%2Fclimate

[15] foto thumbnail https://www.investors.com/politics/global-warming-hoax-climate-change-facts/

Komentar

Komentar

Kirim Pesan

Your message was successfully sent!