Header Pengetahuan Detail

Virus Corona dan Pasar Keuangan

  02 Mar 2020     1313 kali

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) per tanggal 26 Februari 2020, tercatat bahwa terdapat 871 kasus baru terkait virus corona selama 24 jam terakhir dengan total 81109 kasus di seluruh dunia. Di China sendiri, total kasus dilaporkan mencapai 78191 dengan jumlah korban meninggal dunia mencapai 2718 orang. Di luar China,  terdapat 459 kasus baru dimana terdapat empat negara baru yang terdeteksi kasus Corona atau COVID-19 yaitu Algeria, Austria, Kroasia, dan Switzerland.

Sumber gambar: https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200226-sitrep-37-covid-19.pdf?sfvrsn=6126c0a4_2

Lantas, mengapa perkembangan kasus virus corona mengkhawatirkan para investor di pasar keuangan dunia? Mengapa penyebaran virus corana yang bermula pada akhir tahun lalu di China jauh lebih meresahkan pasar global dibandingkan dengan dampak dari virus SARS yang juga diduga bermula di China hampir 20 tahun yang lalu? Mari kita lihat bersama beberapa data yang telah dihimpun dari beberapa sumber.

Sumber gambar : https://www.cnbc.com/2020/02/06/coronavirus-the-hit-to-the-global-economy-will-be-worse-than-sars.html

 Pada saat virus SARS menyebar ke seluruh dunia pada tahun 2003, ekonomi china belum sebesar saat ini dimana ekonomi China telah menjadi sekitar empat kali lipat lebih besar dari tahun 2003. Selain itu menurut International Monetary Fund (IMF) pada tahun 2019 China dan India berkontribusi lebih dari 50% terhadap pertumbuhan global ekonomi. China juga merupakan pengelola kargo terbesar di dunia atau sebesar 30% dari lalu lintas kargo global, sehingga apabila proses tersebut terganggu contohnya karena virus corona ini maka akan memperlambat rantai suplai beragam jenis barang dari sneakers hingga komponen teknologi.

Sumber gambar : https://www.reuters.com/article/us-china-health-ports-graphic/chinas-top-container-ports-unclog-backlog-as-virus-curbs-ease-idUSKCN20L0V5

Dari sisi pengeluaran konsumen, masyarakat China juga merupakan salah satu faktor terbesar pada pengeluaran konsumen global. Dilansir dari laporan yang dipublish oleh McKinsey pada Desember 2019, pengeluaran konsumen masyarakat China menopang 31% dari pengeluaran konsumen secara global. Hal ini dapat berarti pengeluaran masyarakat China merupakan salah satu pendapatan dari bisnis/produk serta bisnis pariwisata global.

               

Sumber gambar : https://www.mckinsey.com/featured-insights/china/china-consumer-report-2020-the-many-faces-of-the-chinese-consumer

Di sisi pasar modal, investor menilai efek penyebaran virus corona dapat memperlambat laju bisnis global. Para pelaku bisnis yang memiliki rantai pasokan suplai di China memprediksi perlambatan baik permintaan maupun produksi. Microsoft baru – baru ini memberikan peringatan kepada investor bahwa proses manufaktur produk dan penjualan mereka akan terdampak atas penyebaran virus corona ini. Sebelumnya, Apple juga sudah menyatakan bahwa epidemic ini mengakibatkan terganggunya rantai suplai dan permintaan di China. Selain itu, beberapa perusahaan teknologi besar seperti Dell, Lenovo, dan Hawlett-Packard (HP) diperkirakan akan mengalami hal serupa.

Sumber gambar :

https://www.statista.com/chart/20940/change-in-market-capitalization-of-the-largest-us-tech-companies-on-feb-24-2020/

 

Sumber gambar : https://www.statista.com/chart/20942/stock-markets-global-coronavirus/

 

Di Indonesia sendiri, IHSG sempat menyentuh ke level 5535 pada pentupan perdagangan hari Kamis 27 Februari 2020, sedangkan pada intraday Jumat 28 Februari sempat menyentuh level 5300. Sebagai negara yang cukup bergantung pada China dari sisi ekspor, tentunya perlambatan ekonomi China juga dapat mempengaruhi laju pertumbuhan ekonomi domestic. China merupakan trading partner terbesar Indonesia dari sisi ekpor maupun impor.

Top 5 Indonesia Trading Partners

Sumber gambar : https://wits.worldbank.org/CountryProfile/en/Country/IDN/Year/2018/TradeFlow/EXPIMP/Partner/by-country

 

Sumber gambar : https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-02-28/indonesian-stocks-tumble-as-virus-concerns-trigger-selloff

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga memberikan trend penurunan sejak awal tahun. Setelah market amerika pada penutupan perdagangan hari kamis berada pada zona merah, sentiment ini berdampak ke pasar asia dan juga Indonesia. Isu mewabahnya virus corona di China memang menjadi trigger utama melemahnya bursa pasar modal global karena China sebagai power house ekonomi global diperkirakan akan mengalami perlambatan ekonomi. Namun demikian, tidak semua kelas aset berdampak negatif penyebaran virus corona. Mungkin sobat reas sudah menduga instrument apa yang justru menunjukkan kenaikan harga di saat ini? Yep, emas! Harga emas sudah naik lebih dari 8% dari awal tahun 2020. Emas merupakan salah satu safe haven asset yang diburu investor dalam situasi pasar modal yang sedang bergejolak. Namun demikian, sejauh apa dampak dari merebaknya virus corona masih belum dapat dipastikan. Tetapi, kita semua harus aware agar baik kesehatan diri maupun portofolio investasi kita tetap terjaga.

 

Sumber gambar : https://www.bloomberg.com

 

References:

https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/situation-reports/20200226-sitrep-37-covid-19.pdf?sfvrsn=6126c0a4_2

https://www.imf.org/en/News/Articles/2019/10/18/na102319-prolonged-uncertainty-weighs-on-asias-economy

https://www.reuters.com/article/us-china-health-ports-graphic/chinas-top-container-ports-unclog-backlog-as-virus-curbs-ease-idUSKCN20L0V5

https://www.reuters.com/article/us-microsoft-stocks/microsoft-shares-fall-4-after-warning-of-coronavirus-hit-to-supply-chain-idUSKCN20L27I

https://www.marketwatch.com/story/gold-up-modestly-as-coronavirus-fuels-demand-for-havens-2020-02-27

https://www.bloomberg.com/quote/XAU:CUR

Komentar

Komentar

Kirim Pesan

Your message was successfully sent!