27 March 2026 207
News

Hadapi Era AI dan Otomatisasi, Indonesia Re Perkuat Efisiensi Digital

Oleh Jeihan Kahfi Barlian

1771908920_08549dee14ef86f467e4

Plt. Direktur Utama Indonesia Re, Robbi Yanuar Walid dalam ajang IT Days 2026. (dok. Indonesia Re)

Transformasi digital kian menjadi kebutuhan strategis bagi industri reasuransi nasional yang menghadapi tekanan risiko yang semakin kompleks, mulai dari volatilitas ekonomi hingga meningkatnya tuntutan efisiensi operasional.

Menjawab tantangan tersebut, PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) (Indonesia Re) menegaskan komitmennya menjadikan digital efficiency sebagai fondasi utama pertumbuhan bisnis melalui penyelenggaraan IT Days 2026.

Forum internal strategis ini mengangkat tema “Digital Efficiency: Building the Fundamental of Future Growth”, dengan tujuan menyelaraskan arah transformasi teknologi perusahaan sekaligus memperkuat integrasi inisiatif digital lintas fungsi.

Plt. Direktur Utama Indonesia Re, Robbi Yanuar Walid, menegaskan bahwa transformasi digital tidak dapat dipahami semata sebagai proyek teknologi, melainkan perubahan mendasar dalam cara organisasi bekerja dan menciptakan nilai.

“Produktivitas organisasi bertumpu pada kombinasi pengetahuan, keterampilan, karakter, dan motivasi sumber daya manusia. Teknologi berfungsi sebagai enabler yang harus digunakan secara selektif dan terukur agar memberikan dampak nyata terhadap kinerja perusahaan serta penguatan tata kelola dan manajemen risiko sebagai bagian integral dari transformasi,” ujar Robbi dalam keterangan resminya.

Hadir sebagai salah satu pemateri utama, Muhammad Fajrin Rasyid, mantan Direktur Bisnis Digital PT Telkom Indonesia periode 2020–2025, menekankan bahwa digitalisasi pada dasarnya merupakan instrumen untuk meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas organisasi, bukan sekadar menghadirkan inovasi teknologi baru.

Menurutnya, banyak organisasi terlalu berfokus pada penciptaan produk digital, tetapi belum memaksimalkan teknologi untuk mengoptimalkan proses bisnis yang sudah ada. Di saat yang sama, perubahan harus berjalan seiring dengan kesiapan internal organisasi.

“Ketika laju perubahan di luar suatu organisasi lebih cepat daripada laju perubahan di dalamnya, maka akhir sudah dekat,” tutur Fajrin.

Fajrin menambahkan, transformasi digital menuntut pergeseran cara pandang organisasi secara menyeluruh. “Transformasi digital menandai perubahan radikal dalam cara suatu organisasi memanfaatkan teknologi, sumber daya manusia, dan proses untuk secara fundamental mengubah kinerja bisnis dan pengalaman pelanggan,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, Direktur Pengembangan dan Teknologi Informasi Indonesia Re, Beatrix Santi Anugrah, menekankan bahwa digital efficiency bukan sekadar upaya pemangkasan biaya, melainkan tuas strategis untuk memperkuat kinerja dan posisi perusahaan.

Digital efficiency bukan hanya cost-cutting, tetapi menjadi tuas strategis untuk sustainable growth, improved combined ratio, dan stronger capital position,” ujar Beatrix.

Beatrix menjelaskan, industri reasuransi menghadapi sejumlah tantangan struktural yang membutuhkan respons terukur, mulai dari core system yang belum sepenuhnya modern, proses kerja yang masih manual dan bergantung pada spreadsheet, tata kelola data dan kapabilitas analitik yang belum memadai, hingga kebutuhan penguatan keamanan siber, ketahanan operasional, serta integrasi dengan mitra ekosistem digital.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Indonesia Re menyiapkan lima area perbaikan strategis: modernisasi core system, penerapan intelligent automation, penguatan integrasi ekosistem digital, pengembangan advanced analytics, serta penguatan keamanan siber dan kesiapan cloud yang resilien.

Salah satu inisiatif utama ke depan adalah pengembangan dashboard terpadu berbasis data real-time yang mampu mengonsolidasikan informasi bisnis secara menyeluruh guna mempercepat pengambilan keputusan strategis. (*)


Teguh Sri Pambudi
Editor