21 January 2026
63
Reasuransi Umum
Menimbang Kendaraan Hidrogen sebagai Penantang Kendaraan Listrik
Di tengah dorongan transisi global menuju energi hijau, pilihan teknologi kendaraan tanpa emisi menjadi perdebatan yang semakin relevan. Battery Electric Vehicle (BEV) saat ini sudah memimpin adopsi pasar berkat infrastruktur pengisian daya yang berkembang cepat dan biaya operasional yang relatif rendah. Namun, Fuel Cell Electric Vehicle (FCEV) atau kendaraan berbasis hidrogen mulai diposisikan sebagai alternatif, terutama untuk kebutuhan mobilitas jarak jauh dan angkutan berat.

Bagaimana Kendaraan Hidrogen Bekerja
Berbeda dengan kendaraan konvensional yang membakar bahan bakar, FCEV menghasilkan listrik melalui reaksi elektrokimia di dalam sel bahan bakar (fuel cell). Secara umum, sistemnya terdiri dari tangki hidrogen bertekanan tinggi, fuel cell stack, serta motor listrik. Hidrogen (H₂) disimpan dalam tangki komposit serat karbon, lalu dialirkan ke fuel cell untuk dipisahkan menjadi proton dan elektron. Elektron mengalir membentuk arus listrik yang menggerakkan motor, sementara proton bereaksi dengan oksigen sehingga menghasilkan air (H₂O) sebagai emisi utama. Karena proses ini tidak melibatkan pembakaran, emisi di knalpot pada kondisi operasi normal pada dasarnya berupa uap air.
Keunggulan Utama Kendaraan Hidrogen
Salah satu nilai jual paling kuat dari FCEV adalah waktu pengisian yang singkat, umumnya sekitar 3–5 menit, dengan daya jelajah yang dapat mencapai ratusan kilometer per pengisian sering disebut berada di kisaran 500 –700 km untuk model tertentu Dari sisi desain, FCEV tidak membutuhkan baterai besar seperti BEV.
Konsekuensinya, bobot sistem penyimpanan energinya dapat lebih ringan pada skenario tertentu. Karakteristik ini dinilai lebih cocok untuk kendaraan komersial berat (misalnya truk logistik) karena tambahan bobot baterai pada BEV dapat mengurangi kapasitas muat dan memengaruhi produktivitas rute.
Tantangan Struktural yang Masih Menghambat
Walau menjanjikan, ekosistem hidrogen masih menghadapi hambatan yang tidak kecil. Pertama, infrastruktur pengisian hidrogen masih terbatas dan biaya pembangunan stasiun pengisian relatif mahal, sehingga ketersediaannya tidak merata.
Kedua, isu efisiensi energi “well-to-wheel” sering menjadi sorotan. Rantai proses yang panjang mulai dari produksi hidrogen (misalnya melalui elektrolisis), kompresi, transportasi, hingga konversi kembali menjadi listrik di kendaraan membuat energi yang hilang cenderung lebih besar dibandingkan penggunaan listrik langsung pada BEV.
Ketiga, biaya kendaraan dan biaya bahan bakar hidrogen masih belum kompetitif di banyak pasar, sehingga total biaya kepemilikan (total cost of ownership) umumnya masih lebih tinggi dibandingkan BEV atau kendaraan berbahan bakar fosil.
BEV vs FCEV: Perbedaan dalam Penggunaan
Meskipun sama-sama mengandalkan motor listrik, perbedaan kunci BEV dan FCEV terletak pada cara menyimpan dan menyediakan energi. BEV menyimpan energi listrik langsung ke baterai, sedangkan FCEV membawa hidrogen sebagai “pembawa energi” dan memproduksi listrik di dalam kendaraan. Untuk mobilitas harian di perkotaan, BEV sering lebih unggul karena dapat diisi ulang di rumah atau di fasilitas publik yang semakin luas, serta biaya energi per kilometer yang rendah.
Sebaliknya, FCEV lebih menarik untuk operasi yang mengejar waktu henti minimum dan jarak tempuh tinggi, seperti angkutan lintas wilayah, di mana durasi pengisian dan penambahan bobot sistem penyimpanan energi berdampak langsung pada produktivitas.
Implikasi Risiko dan Tantangan bagi Industri Asuransi
Dari perspektif manajemen risiko, hidrogen membawa karakteristik bahaya yang berbeda. Sebagai gas dengan molekul sangat kecil, hidrogen memiliki potensi kebocoran yang relatif lebih tinggi. Jika kebocoran terjadi di ruang tertutup dan tidak terdeteksi cepat, risiko kebakaran atau ledakan dapat meningkat. Di sisi lain, tekanan penyimpanan yang tinggi pada beberapa sistem hingga sekitar 700 bar menuntut standar desain, pengujian, dan proteksi tangki yang ketat, yang dapat memengaruhi penilaian profil risiko aset.
Dari aspek finansial klaim, biaya perbaikan FCEV berpotensi mahal karena komponen fuel cell stack menggunakan material bernilai tinggi seperti platinum, yang harganya dapat berfluktuasi di pasar. Selain itu, keterbatasan data historis klaim dalam skala besar pada tahap awal adopsi membuat penentuan tarif premi cenderung konservatif. Pada fase awal, kondisi ini dapat mendorong premi lebih tinggi sampai teknologi, jaringan bengkel, dan ketersediaan suku cadang mencapai skala yang lebih matang.
Penutup
Kendaraan hidrogen berpotensi menjadi pelengkap bukan sekadar pesaing bagi kendaraan listrik baterai. BEV kemungkinan tetap dominan untuk penggunaan harian, sementara FCEV berpeluang mengambil peran yang lebih signifikan pada segmen yang menuntut pengisian cepat, jarak tempuh tinggi, dan beban kerja berat.
Ke depan, arah perkembangan FCEV akan sangat dipengaruhi oleh investasi infrastruktur, biaya produksi hidrogen rendah karbon, serta kesiapan standar keselamatan dan kerangka underwriting yang sesuai.
Artikel