31 August 2026 113
Pengetahuan Umum

Tantangan dan Strategi Penerapan Kompetensi AI di Organisasi

Di era transformasi digital saat ini, penggunaan Artificial Intelligence (AI) dalam membantu pekerjaan sehari-hari dan sudah bukan menjadi hal yang asing lagi. AI saat ini sudah mampu membantu manusia hampir di setiap aspek pekerjaan seperti membuat materi presentasi, membuat usulan perencanaan konten sosial media, pembacaan data yang rumit hingga dapat menjadi partner konsultasi perbincangan sehari hari, dan tidak terkecuali pemanfaatan AI di Perusahaan.

Saat ini AI sudah banyak digunakan oleh perusahan untuk membantu membuat perencanaan pemasaran, membaca prediksi pergerakan bisnis, pelayanan, hingga melakukan Analisa sumber daya manusia (karyawan) yang lebih kompleks. Penggunaan AI pada aspek tersebut sudah bukan semata hanya rekomendasi dummy semata, melainkan dapat dijadikan acuan yang terpercaya sehingga Human Capital Department di sebuah Perusahaan harus segera bersiap untuk dapat menjadikan kemampuan AI ini sebagai skillset yang harus dimiliki oleh setiap karyawan. Menurut laporan LinkedIn Skills on the Rise 2025, AI Literacy menjadi salah satu skill dengan pertumbuhan tercepat di dunia kerja, dan LinkedIn memprediksi bahwa sekitar 70% skill yang digunakan dalam pekerjaan saat ini akan berubah pada tahun 2030 akibat adanya teknologi dan AI ini.

Tidak dapat dipungkiri bahwa pemanfaatan AI di dunia kerja dapat meningkatkan produktifitas dan efisiensi pekerjaan karyawan. AI tidak sepenuhnya menggantikan pekerjaan karyawan itu sendiri, namun justru AI membantu karyawan khususnya dalam pekerjaan yang bersifat administratif dan repetitive sehingga karyawan dapat lebih fokus pada pekerjaan yang lebih bersifat strategis, kreatif, inovatif dan bahkan hingga pengambilan Keputusan. Oleh karena itu, pengelolaan sumber daya manusia khususnya bagian Human Capital (HC) di sebuah perusahaan diharapkan mulai memasukan kompetensi AI sebagai salah satu kompetensi wajib yang dimiliki oleh setiap karyawan untuk dapat beradaptasi dan mengikuti perkembangan kemajuan bisnis.

Bagi Perusahaan, pengembangan kompetensi AI pada karyawan dapat menjadi investasi penting agar dapat tetap berkompetisi di industri. World Economic Forum dalam laporan New Economy Skills: Building AI, Data and Digital Capabilities for Growth menyatakan bahwa kesenjangan kemampuan digital dan AI menjadi tantangan besar global, sehingga perusahaan perlu mempercepat upskilling dan reskilling tenaga kerja mereka. Namun demikian, penerapaan kompetensi AI sebagai skillset wajib yang harus dimiliki oleh setiap karyawan merupakan tantangan tersendiri bagi sebagian besar perusahaan khususnya bagian Human Capital.

Walaupun saat ini platform AI gratis sudah banyak dapat diakses oleh sebagian besar orang, namun dalam penerapan dan penggunaan AI yang lebih advance di sebuah Perusahaan memiliki tantangannya tersendiri. Dalam proses implementasi kompetansi AI di sebuah Perusahaan terdapat 2 tantangan, yakni tantangan yang berasal dari internal karyawan dan eksternal karyawan.

Tantangan internal Karyawan - Generation Gap

Pada praktiknya, tidak dapat dipungkiri bahwa digitalisasi dalam hal ini penggunaan AI cenderung lebih mudah dikuasai oleh beberapa generasi tertentu. Generasi Y, Z dan alpha, yang secara tahun kelahiran tumbuh di era dimana digitalisasi merupakan bagian dari proses pertumbuhan mereka, akan lebih mudah beradaptasi dalam penggunaan AI.

Sebaliknya sebagain besar generasi X dan Baby Boomers harus memiliki usaha yang lebih keras untuk dapat beradaptasi dengan AI ini. Oleh karena itu dalam proses internalisasi penggambaran kompetensi AI di Perusahaan, Human Capital Department harus lebih peka dengan adanya Gap Generation ini dengan melakukan pendekatan internalisasi yang terencana dan terstruktur serta mampu di terapkan pada semua generasi.

Tantangan Eksternal Karyawan – Development & Infrastructure

Dengan memasukan AI Competency sebagai standar kinerja karyawan artinya Perusahaan harus mendukung proses internalisasi tersebut khususnya dari kesiapan sistem dan infrastruktur yang dapat mendukung pemanfaatan AI di Perusahaan. Perusahan perlu mencadangkan biaya untuk proses pengembangan karyawan dalam hal pemanfaatan AI untuk bekerja seperti mengadakan pelatihan untuk memperkenalkan dan mengajarkan kepada karyawan mengenai AI. Selain itu Perusahaan juga perlu mendukung secara infrastruktur yakni dengan menggunakan AI pro yang berbayar dan bisa diintegrasikan dengan sistem digital yang dimiliki oleh Perusahaan.

Adapun setelah memahami tatangan peningkatan Kompetensi AI di Perusahaan berikut Adalah tahapan tahapan yang dapat dilakukan oleh Perusahaan dalam proses internalisasi kompetensi AI di lingkungan kerja, diantaranya:
  1. Pemetaan Kapabilitas AI di Perusahaan
Pada awal penerapan kompetensi AI di Perusahaan, perlu dilakukan pemetaan sejauh mana karyawan di sebuah Perusahaan sudah mengetahui bahkan menggunakan AI di pekerjaan sehari hari karyawan. Dengan begini Perusahaan akan dapat menentukan program pengembangan baik pelatihan maupun pengembangan system seperti apa yang harus diterapkan.
  1. Memulai dari Kondisi yang Paling Relevan
Seperti yang dilihat dalam tantangan internalisasi kompetensi AI pada paragraph sebelumnya bahwa dalam  proses implementasinya dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, sehingga Perusahaan dapat memulai pemaksimalah AI ini pada divisi-divisi tertentu yang sangat membutuhkan AI dalam pekerjaannya. Sehingga proses penerapan AI yang bertahap ini lebih dapat tepat sasaran sebelum nantinya akan terinternalisasi di seluruh Perusahaan dan karyawan.
  1. Membangun Budaya Transformasi dan Terus Berkembang
Organisasi perlu menciptakan lingkungan kerja yang mendukung eksplorasi dan pembelajaran. Karyawan harus merasa aman untuk mencoba teknologi baru dan belajar dari pengalaman tanpa rasa takut akan penilaian negatif. Budaya kerja yang adaptif dan aman secara psikologis menjadi fondasi penting bagi organisasi untuk terus berkembang.
  1. Mengintegrasikan AI ke Dalam Pengembangan SDM
Literasi dan kemampuan AI sebaiknya menjadi bagian dari sistem pengembangan sumber daya manusia. Kompetensi AI dapat dimasukkan ke dalam indikator kinerja, rencana pengembangan individu, maupun program pembelajaran karyawan agar menjadi bagian alami dari pertumbuhan profesional di era digital.

Indonesia Re melalui Human Capital Department sejak tahun 2024 telah melakukan internalisasi kompetensi digital ke dalam Kamus Kompetensi Perilaku untuk seluruh karyawan. Penerapan kompetensi tersebut dibagi menjadi tiga level yaitu Digital Savvy Competence untuk level Top Management, Digital Acumen Competence untuk level Middle Management dan Digital Orientation Competence untuk level Staff.

Sepanjang tahun 2026, Indonesia Re juga telah menyelenggarakan beberapa pelatihan mengenai pemanfaatan AI untuk pekerjaan sehari-hari. Kedepan, Indonesia Re akan terus fokus memaksimalkan penggunaan AI dalam pekerjaan dan proses bisnis.

Pada akhirnya, AI akan menjadi sebuah skill yang dimiliki oleh hampir setiap karyawan. Perusahaan yang mampu memaksimalkan AI pada proses kerja tentu akan dapat lebih cepat dan efisien dalam menghadapi perubahan dan tantangan bisnis ke depannya. Karena sekali lagi fungsi AI bukan untuk menggantikan fungsi manusia, tetapi mempercepat efisiensi efektivitas suatu pekerjaan sehingga Perusahaan mampu bergerak lebih cepat dan memiliki keunggulan yang kompetetif di industri.

Penulis

Achmad Nizar, S. Psi, CRMO, CHRO

Email: nizar@indonesiare.co.id