09 December 2016 3203
Engineering

Machinery (should) Breakdown?

Dalam dunia asuransi, kita mengenal Machinery Breakdown sebagai sebuah wording atas penutupan mesin-mesin industri baik saat pengoperasian maupun dalam kondisi istirahat.

Tentu saja teman-teman asuransi akan langsung teringat pada polis MB pada saat kita menyebutkan  kata “Machinery Breakdown”. Polis ini bertujuan untuk memberikan ganti rugi atas segala kerusakan pada mesin-mesin yang sedang beroperasi maupun pada tahap pemeliharaan (maintenance).

Perlu dipahami bahwa tidak semua karakteristik perawatan mesin adalah sama, setiap perusahaan akan menerapkan pola pemeliharaan yang sesuai dengan mesin tersebut dan biaya yang akan dikeluarkan untuk pemeliharaannya. Beberapa komponen mesin akan dirawat sedemikian rupa agar tidak rusak karena akan memerlukan pergantian yang amat mahal sedangkan beberapa komponen memang ditakdirkan untuk digunakan sampai batas lifetime-nya karena menggantinya akan lebih murah daripada merawatnya.

Sebagai pengenalan, mari kita coba telaah beberapa pola pemeliharaan yang ada dalam dunia teknik. Engineer mengenal tiga jenis perawatan atas sebuah mesin, yaitu:

1. Preventive Maintenance

Merupakan sebuah bentuk perawatan dimana pemeliharaan dilakukan dengan memprediksi jangka waktu dimana mesin tidak akan bekerja dengan efisien. Misalnya: AC dilakukan pemeliharaan saat terasa tidak begitu dingin.

2. Periodic Maintenance

Merupakan sebuah bentuk perawatan dimana pemeliharaan dilakukan berdasarkan umur pakai dari mesin tersebut. Contohnya: sebuah motor akan dilakukan pemeliharaan setiap 500 KM atau 6 bulan.

3. Breakdown Maintenance

Merupakan suatu bentuk perawatan dimana hanya akan dilakukan pergantian mesin apabila terjadi kerusakan.

Ketiga bentuk pemeliharaan tersebut umum dilakukan pada mesin-mesin produksi, namun pilihan akan menggunakan bentuk yang mana akan tergantung kepada user (pengguna), tergantung keekonomisan harga terhadap hasil produksinya.

Contoh kasus adalah komponen ejector dalam power plant, sebuah ejector adalah komponen untuk menyerap zat contaminant dalam uap sehingga tidak membahayakan turbin. Bila dilakukan perawatan untuk ejector tersebut akan sangat mahal dibandingkan dengan pembelian baru karena dalam perawatannya memuat biaya bongkar turbine yang jauh lebih mahal daripada harga sebuah ejector. Kondisi demikian tentu akan merugikan sehingga manajemen tentu saja akan menerapkan breakdown maintenance dimana ejector hanya akan diganti bila terjadi kerusakan. 

Contoh kasus sederhana seperti ini dapat menjadi perhatian penting dalam pertimbangan underwriter dalam melakukan penutupan polis Machinery Breakdown. Hal terpenting dalam memperpanjang umur mesin adalah pola perawatannya sehingga tentu saja underwriter harus mengetahui pola perawatan masing-masing alat dalam line produksi tersebut. Dengan pemahaman tersebut tentu kita sepakat bahwa Breakdown Maintenance adalah musuh terbesar dalam penutupan polis asuransi Machinery Breakdown.

Dengan melihat kondisi demikian, tentu para underwriter harus dapat mengenal mesin-mesin dan pola perawatanya. Pola underwriting untuk penutupan polis Machinery Breakdown seharusnya adalah “analisa per mesin” bukan “analisa per line” atau bahkan “analisa per plant”. Dengan analisa per mesin, underwriter akan lebih mengetahui karakter masing-masing mesin dan membuat suatu keputusan yang prudent.

Demikianlah sedikit perkenalan dengan pemeliharaan mesin-mesin, semoga dapat memberikan suatu gambaran bagi teman-teman semua di tengah maraknya penutupan machinery breakdown di market asuransi saat ini. 

 

 

(Reinfokus edisi I, tahun 2014)

 

 

Penulis

Aries Karyadi, ST., MT., AMII, AAIK

Email: aries@indonesiare.co.id