19 September 2022 1611
Reasuransi Umum

Ngeri-ngeri Sedap #4: Belajar dari Emak-emak

Jelang perempat terakhir tahun 2022, pasar reasuransi global dan regional terus mengeras.  Tidak hanya harga yang terus memanjat naik atau syarat dan ketentuan yang semakin ketat, bahkan kapasitas terpasang turut menyusut.  Beberapa pemain penting undur diri dari lini bisnis properti dan natural catastrophe atau setidaknya memangkas kapasitas dengan ganas.
 
Lebih spesifik bagi reasuradur domestik, ada fenomena yang menarik.  Disaat pasar reasuransi global berada pada siklus hard market selama 17 kuartal atau lebih dari 4 tahun, portofolio reasuransi treaty nasional justru merugi dalam empat tahun terakhir.  Anomali ini dipercaya akibat struktur yang tidak berimbang dan unsustainable serta pricing yang tidak memadai.
 
Di dalam negeri keadaan memang sedang tidak baik-baik saja.  Industri (re)asuransi telah menderita dari kompetisi yang semakin brutal, konsentrasi risiko akibat praktek koasuransi & facultative inward tidak prudent.  Tidak pula dapat diabaikan adanya fenomena capacity compression (pemampatan kapasitas) akibat pemain lokal terpaksa menahan primary layer bertekanan tinggi dari penempatan excess of loss ke pasar luar negeri.  Klik link https://www.indonesiare.co.id/id/article/ngeri-ngeri-sedap-3-treaty-compression-pecah-ban-ala-reasuransi untuk diskusi lebih detail tentang fenomena ini.  Keadaan diperburuk dengan meningkatnya frekuensi kerugian berukuran besar (market loss), yang melibatkan banyak penanggung dan penanggung ulang, baik dalam maupun luar negeri.
 
Semuanya mengarah pada satu fakta yang harus dilalui bersama oleh industri bahwa treaty renewal 1 Januari 2023 mendatang tampaknya akan ngeri-ngeri sedap.  Lalu apa yang harus dilakukan bagi pembeli kapasitas reasuransi?
 
The moment of truth akan bermula saat anda menerima quotation pertama bagi program treaty anda.  Namun, saat itu terjadi, sudah sangat terlambat bagi anda untuk mulai bereaksi.  Langkah antisipasi atas kemungkinan pasar yang sulit perlu dilakukan jauh lebih dini.
 
Rasanya kini saat yang tepat untuk belajar dari kepiawaian emak-emak (ibu rumah tangga) mengatur uang belanja yang segitu-gitu aja namun dituntut tetap dapat memenuhi kebutuhan dapur dan makan anggota keluarganya, disaat harga barang-barang kebutuhan merangkak naik.  Pastilah banyak penyesuaian yang harus dilakukannya, termasuk kuantitas, kualitas atau tempat berbelanja. 
 
Konsumsi minyak goreng per bulan ia kurangi dengan lebih banyak merebus atau memanggang.  Bahan-bahan bermerek diganti dengan bahan curah.  Belanja bulanan yang biasanya dilakukan di hypermarket di mal mewah berhawa sejuk kini berpindah ke pasar basah.  Protein hewani ia tukar dengan nabati.  Anggota keluarga yang obese ia paksa melakukan diet.  Ia semakin kreatif bereksperimen dengan resep-resep baru berbiaya murah namun tetap enak.  Emak-emak itu tertolong pula oleh pelanggan super loyal yaitu anak-anak yang tetap percaya masakan ibunda adalah yang paling enak sedunia, no matter what.
 
Kurang lebih itu pula yang harus dilakukan oleh Direktur Teknik atau manager reasuransi dalam menghadapi pasar reasuransi/retrosesi yang kini tidak bersahabat.  Bila renewal-renewal sebelumnya berlangsung lebih smooth dengan perubahan-perubahan yang tidak signifikan, maka kali kini kita harus bersiap dengan alternatif-alternatif yang fundamental dan struktural.  Dengan kata lain kita harus mempersiapkan beberapa struktur reasuransi yang berbeda secara signifikan untuk kemudian akan kita pilih sebagai pilihan paling optimal setelah mempertimbangkan banyak faktor, internal maupun eksternal.
 
Mendapatkan beberapa alternatif struktur reasuransi untuk suatu portofolio bukanlah latihan yang mudah dan ringan.  Ia mestilah dimulai dengan analisis mendalam terhadap portofolio risiko yang sedang dikelola dari banyak aspek seperti loss history, attrional vs large vs event losses, sebaran sum insured, komposisi kelas bisnis, simple vs medium vs complex risks, sebaran geografis dan sebagainya.
 
Kajian lalu dilanjutkan dengan memasukkan faktor pertimbangan kedua yaitu rencana bisnis tahun depan, yang apabila diramu dengan existing portofolio akan menghasilkan target portfolio.  Seberapa jauh perbedaan target portofolio dari current portfolio tentu akan menentukan seberapa besar perubahan yang harus dilakukan.
 
Target portofolio inilah yang semestinya menjadi landasan utama merancang struktur program reasuransi.  Pada tahap ini, kedalaman wawasan tentang berbagai bentuk dan metode reasuransi bekerja dan dampaknya bagi asuradur dan reasuradur menjadi sangat vital.  Treaty proporsional tentu berbeda dari non-proporsional, quota share berdampak lain dari pada surplus, dan seterusnya. 
 
Mengkombinasikan beberapa metode mungkin memberikan hasil yang optimal dan win-win.  Simulasi berbagai kombinasi ini idealnya dilakukan cukup dalam hingga pada tahap bagaimana setiap option berdampak pada laporan keuangan perusahaan.  Bereksperimen dengan berbagai kombinasi ini adalah seperti emak-emak yang mencoba-coba resep baru.
 
Sampai sejauh ini, option-option yang dihasilkan lebih mempertimbangkan faktor-faktor internal.  Langkah selanjutnya adalah melakukan validasi dengan konstrain-konstrain eksternal yang mana kita hampir tidak memiliki kontrol atasnya.  Validasi ini dapat dilakukan sebelum negosiasi renewal treaty yang sesungguhnya terjadi dengan terus memantau perkembangan pasar, baik lokal, regional maupun global. 
 
Lagi-lagi kita harus belajar dari emak-emak, yang dalam situasi sulit akibat harga-harga yang naik, akan semakin gencar mencari informasi harga-harga dengan tujuan mencari pemasok dengan harga termurah.  Bagi konsumen kapasitas reasuransi atau retrosesi, komunikasi yang instens dengan reasuradur/retrosesioner dan broker-broker reasuransi merupakan cara yang efektif dalam menangkap denyut pasar yang mungkin berpengaruh pada renewal treaty nanti.
 
Good luck to all of us!
 
 

 
 

Penulis

Delil Khairat, S. SI., M.B.A., ACII, FIIS

Email: delil@indonesiare.co.id