26 October 2022 2020
Reasuransi Jiwa

Fenomena Resistensi Antibiotik dan Infeksi Superbug

Di saat penanganan Pandemi Covid masih belum tuntas sepenuhnya, lagi-lagi, dunia harus dihadapkan pada sebuah tantangan baru dari dunia kesehatan. Kali ini, tantangan tersebut hadir dalam bentuk fenomena resistensi antibiotik dan infeksi Superbug. Fenomena ini merujuk kepada infeksi bakteri yang resisten alias kebal terhadap pengobatan antibiotik. Bagaimana resistensi antibiotik dan infeksi Superbug ini dapat terjadi, serta apakah potensi dampaknya bagi masyarakat?

Sebelum memahami tentang resistensi antibiotik dan infeksi Superbug, ada baiknya kita sama-sama kembali meninjau pemahaman kita tentang infeksi bakteri dan antibiotik.

Bakteri merupakan mikroorganisme bersel tunggal yang habitat utamanya berada di air, tanah, bahkan di dalam tubuh manusia. Keberadaan bakteri tidak selalu merugikan kesehatan kita, karena justru, tubuh kita memerlukan bakteri jenis tertentu dan dalam jumlah tertentu untuk menjaga fungsi metabolisme serta kesehatan tubuh kita.
Infeksi bakteri sendiri merupakan kondisi di mana bakteri yang berbahaya masuk ke dalam tubuh kita, berkembang biak, dan menginfeksi organ atau bagian tubuh tertentu. Infeksi bakteri dapat menular baik secara kontak langsung (misalnya, bersentuhan fisik langsung dengan penderita), kontak tidak langsung (misalnya, menyentuh benda yang pernah disentuh oleh penderita), melalui makanan atau minuman, ataupun melalui gigitan hewan.

Infeksi bakteri dapat terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Meskipun demikian, serupa dengan penyakit infeksi lainnya, tidak semua orang yang terpapar oleh bakteri akan serta merta mengalami infeksi bakteri. Proses infeksi akan terjadi apabila imunitas orang yang terpapar oleh bakteri sedang tidak berada dalam kondisi yang baik, sehingga, bakteri tersebut dapat berkembang biak dengan cepat dan menginfeksi organ atau bagian tubuh dari orang tersebut. Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk terinfeksi oleh bakteri adalah penderita immunocompromised (misalnya, penderita HIV-AIDS atau kanker), sedang mengkonsumsi obat kortikosteroid, sedang mengalami kekurangan nutrisi, berusia sangat muda atau sangat lanjut, serta berada dalam lingkungan yang kurang bersih.

Sama seperti penyakit infeksi lainnya, penderita infeksi bakteri umumnya akan mengalami gejala khas infeksi, yaitu demam, yang merupakan tanda dari terjadinya radang pada sel, organ, atau bagian tubuh tertentu. Adapun tanda dan gejala lainnya umumnya akan sesuai dengan organ atau bagian tubuh yang terinfeksi oleh bakteri tersebut. Misalnya, apabila bakteri menginfeksi saluran pernafasan, maka gejala yang akan muncul dapat berupa batuk, bersin, atau sesak nafas. Sedangkan apabila bakteri menginfeksi saluran pencernaan, maka gejala yang akan muncul dapat berupa mual, muntah, atau diare.

Penegakkan diagnosis infeksi bakteri dapat dilakukan melalui beberapa metode, di antaranya adalah kultur bakteri atau gram staining, yang akan membantu dokter untuk secara spesifik mengetahui bakteri mana yang terlibat dalam proses infeksi ini. Mengetahui jenis bakteri secara spesifik tentunya akan sangat membantu dalam hal pengobatan infeksi, karena, setiap bakteri yang berbeda dapat ‘dilumpuhkan’ dengan jenis obat yang berbeda pula.

Pengobatan utama pada kasus infeksi bakteri adalah pemberian antibiotik. Antibiotik sendiri merupakan jenis obat yang bertujuan untuk menghambat pertumbuhan, perkembangbiakkan, serta membunuh bakteri yang masuk ke dalam tubuh kita. Dalam ranah medis, selain untuk tujuan pengobatan, antibiotik juga dapat digunakan untuk tujuan pencegahan, misalnya, pada pasien yang baru menjalani tindakan pembedahan akan diberikan antibiotik yang bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi bakteri akibat tindakan pembedahan yang dilakukan. Meskipun objektif penggunaannya cukup luas, penggunaan antibiotik sendiri tidak dapat dilakukan secara sembarangan, serta harus berdasarkan anjuran dokter dan penggunaannya pun harus dalam pengawasan dokter. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya resistensi antibiotik.

Apakah yang dimaksud dengan resistensi antibiotik?

Resistensi antibiotik mengacu pada kondisi di mana pemberian antibiotik tidak lagi efektif dalam menghambat pertumbuhan, perkembangbiakkan, atau membunuh bakteri yang menginfeksi tubuh. Kondisi resistensi antibiotik menyebabkan bakteri tetap dapat tumbuh, berkembang, dan menginfeksi tubuh kita, sehingga penyakit menjadi tidak teratasi, dan bahkan berpotensi menimbulkan komplikasi serta fatalitas. Pada akhirnya, efek samping dari pemberian antibiotik akan lebih besar dari manfaat yang dapat dirasakan dari pemberian antibiotik tersebut.
Berdasarkan studi yang ada, resistensi bakteri dapat terjadi karena bakteri mampu beradaptasi terhadap antibiotik yang diberikan kepada tubuh. Adaptasi tersebut dapat terjadi melalui mekanisme munculnya kemampuan bakteri untuk menetralisir antibiotik, munculnya kemampuan bakteri untuk dapat mengeluarkan antibiotik yang masuk atau menempel kepadanya, serta munculnya kemampuan bakteri untuk bermutasi dan mengubah gen atau struktur tubuhnya yang tadinya sensitif terhadap antibiotik.

Tidak semua penggunaan antibiotik berisiko untuk menimbulkan resistensi antibiotik. Terhadap beberapa kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami resistensi antibiotik, di antaranya adalah mengkonsumsi antibiotik padahal tidak sedang mengalami infeksi bakteri, mengkonsumsi antibiotik tidak sesuai dengan anjuran (misalnya, tidak teratur waktu dan dosisnya), atau tidak menuntaskan konsumsi antibiotik sesuai dengan peresepan dokter. Inilah pentingnya, kita memperhatikan betul anjuran konsumsi antibiotik yang diberikan oleh dokter, dan tentunya mengkonsumsi antibiotik sesuai dengan indikasi. Misalnya, apabila infeksi yang kita alami disebabkan oleh virus, tentu kita tidak akan memerlukan pengobatan antibiotik.

Resistensi antibiotik menjadi permasalahan yang penting karena resistensi antibiotik tidak hanya akan menimbulkan dampak buruk bagi penderita resistensi antibiotik tersebut saja. Dalam jangka panjang, bakteri yang mengalami resistensi dapat berkembang atau bermutasi menjadi jenis bakteri baru yang kebal terhadap antibiotik. Beberapa jenis bakteri yang telah terbukti kebal terhadap antibiotik di antaranya adalah Methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) yaitu bakteri penyebab infeksi kulit dan pneumonia, Vancomycin-resistant Enterococcus (VRE) yaitu bakteri penyebab infeksi saluran kemih, dan Penicillin-resistant Neisseria gonorrhea yaitu bakteri penyebab infeksi gonorrhea berat. Bakteri-bakteri tersebut terbukti telah memiliki ‘kekebalan’ terhadap regimen antibiotik standar, yang sebelumnya efektif untuk menangani bakteri-bakteri tersebut.

Bagaimana dengan infeksi Superbug?

Pada dasarnya, terminologi Superbug mengacu kepada pathogen super (baik itu bakteri ataupun jamur) yang resisten terhadap pemberian obat, termasuk di antaranya adalah antibiotik. Terkait dengan pemberitaan infeksi Superbug yang beredar akhir-akhir ini di India, kejadian tersebut pertama kali dilaporkan oleh tim dokter di RS Kasturba, Maharashtra, India Barat. RS tersebut dilaporkan telah mencatat lebih dari 1,000 kasus infeksi Superbug, dan saat ini, para dokter di RS Kasturba masih terus berjibaku dengan munculnya ruam infeksi Superbug yang tidak merespon terhadap pemberian antibiotik dengan regimen standar.

Prof. Dr. Zubairi Djoerban selaku Ketua Satgas Penanganan COVID-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyampaikan bahwa jenis dari mikroba yang diduga menyebabkan fenomena infeksi Superbug tersebut bermacam-macam, di antaranya adalah Staphylococcus aureus dan Acinetobacter baumannii. Kedua bakteri tersebut adalah bakteri penyebab pneumonia. Sebagai dampak dari kebalnya bakteri penyebab infeksi tersebut, penderita membutuhkan ventilator sebagai alat bantu pernafasan, dan beberapa di antaranya bahkan mengalami fatalitas. Efektivitas pemberian antibiotik pada kasus-kasus infeksi Superbug disebut sangat rendah dan hanya mencapai sekitar 15%, jika dibandingkan dengan efektivitas pada infeksi bakteri lainnya.

Berdasarkan data yang disampaikan oleh The Indian Council Medical Research, India sendiri telah mencatat lonjakan kasus infeksi Superbug sebesar 10% dalam satu tahun. Tidak hanya di India, Prof. Zubairi Djoerban menyampaikan bahwa fenomena infeksi Superbug juga telah terdeteksi di USA. Berdasarkan informasi terkini dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), setiap 15 menit, satu orang meninggal di USA akibat infeksi Superbug dan resistensi antibiotik. CDC juga menjelaskan bahwa terdapat lebih dari 2.8 juta kasus resistensi antibiotik di USA, dan lebih dari 35,000 kasus berujung pada fatalitas. Catatan ini tentunya dapat terus memburuk, apabila tidak ada tindakan pencegahan signifikan yang dilakukan.

Sebenarnya, kasus infeksi Superbug dan resistensi antibiotik ini bukanlah isu yang baru. Pada tahun 2011 lalu, sebuah publikasi bertajuk Superbug – the so-called NDM-1 – menyebutkan telah tercatatnya kejadian resistensi antibiotik di India, USA, dan Eropa, yang bahkan berujung pada ribuan fatalitas di setiap tahunnya. ‘Perang’ antara kuman dan antibiotik memang telah terjadi bahkan sejak era Alexander Fleming, seorang ilmuwan Skotlandia yang berhasil menemukan Penicillin, yang membuka cakrawala dunia medis akan pengobatan infeksi. Fakta tersebut menjadi dasar dari hipotesa bahwa resistensi antibiotik dan kemunculan Superbug pada hakikatnya merupakan suatu fenomena alam yang tidak terelakkan, karena merupakan bagian dari proses evolusi organisme.

Telah menjadi pengetahuan umum di dunia medis bahwa resistensi antimikroba –termasuk di antaranya resistensi antibiotik- merupakan salah satu trigger terpenting dari kemunculan penyakit infeksi dan penyakit emerging, yang dapat mengganggu stabilitas kesehatan masyarakat. Resistensi antimikroba akan selalu berevolusi, bahkan bagi agen antimikroba yang baru dan kuat seperti Carbapenem. Penggunaan antimikroba yang tidak bijak dan tidak sesuai indikasi pada manusia, hewan, dan industri, dinilai menjadi penyebab utama dari fenomena resistensi antimikroba secara umum.

Dunia medis pernah mencatat adanya kematian pada penderita Superbug NDM-1 (New Delhi Metallo-beta-lactamase-1) di USA pada November 2016 lalu. Otoritas kesehatan USA menyatakan bahwa kematian wanita berusia 70 tahun tersebut disebabkan oleh resistennya mikroba penyebab infeksi yang dialaminya terhadap semua antibiotik yang tersedia, termasuk terhadap Carbapenem, yang biasanya cukup efektif dalam menangani Superbug seperti MRSA dan kondisi sepsis. Kejadian tersebut sontak menarik perhatian komunitas kesehatan, dan semakin menyadarkan dunia bahwa bahaya dari resistensi antibiotik memang benar adanya.

Meskipun dunia sangat menyadari bahaya dari resistensi antibiotik dan infeksi Superbug, perjuangan memerangi resistensi antibiotik dan Superbug ini tercatat telah mengalami kemunduran sejak kemunculan Pandemi Covid. Hal tersebut sepertinya disebabkan karena banyaknya penderita Covid yang menerima berbagai jenis antibiotik, yang pada akhirnya menyebabkan perubahan status kekebalan bakteri terhadap antibiotik yang diberikan. Pada fase awal Pandemi Covid, di mana para ahli masih begitu ‘clueless’ akan pengobatan bagi penderita Covid, sejumlah besar penderita Covid diobati dengan berbagai jenis antibiotik, yang tidak jarang justru membuat para penderita tersebut mengalami berbagai efek samping.

Resistensi antibiotik dan infeksi Superbug ini pada akhirnya berpotensi menjadi ‘silent pandemic’, sekaligus ancaman terbesar pada dunia kesehatan secara global. Resistensi antibiotik yang pada dasarnya merupakan ‘fenomena alam’, dapat diperberat dengan semakin tidak bijaknya penggunaan antibiotik secara umum. Pada akhirnya, efektivitas penggunaan antibiotik akan semakin menurun, dan sejumlah penyakit infeksi akan semakin sulit untuk diobati.

Apakah jika demikian, resistensi antibiotik dan kemunculan Superbug merupakan ‘kesalahan’ dari tenaga medis?
Sejujurnya, tenaga medis tidak dapat sepenuhnya disalahkan dalam kasus resistensi antibiotik dan infeksi Superbug ini. Di RS umum yang merupakan pusat rujukan, jumlah pasien setiap harinya selalu membludak, sehingga dokter kekurangan waktu untuk dapat bertemu, melakukan pemeriksaan, dan mendiagnosis pasien dengan adekuat. Tidak jarang, para pasien justru ‘menuntut’ dokter untuk meresepkan antibiotik kepada mereka, terutama apabila para pasien tersebut mengalami gejala yang cukup berat, atau tidak sembuh dengan pengobatan selain antibiotik. Kondisi tersebut tidak jarang diperparah dengan kurang mumpuninya fasilitas diagnostik di RS atau fasilitas kesehatan lainnya. Hal tersebut menyebabkan dokter cenderung langsung meresepkan antibiotik, alih-alih melakukan pemeriksaan yang mahal dan membutuhkan waktu lama, sebelum memastikan adanya indikasi penggunaan antibiotik. Ketidakbijakan penggunaan antibiotik inilah yang merupakan trigger dari kejadian resistensi antibiotik.

Beberapa fakta yang tercatat terkait dengan fenomena resistensi antibiotik ini di antaranya adalah peningkatan lama rawat inap pasien di RS dan peningkatan angka kematian akibat infeksi mikroba. Selain itu, Indian Council of Medical Research (ICMR) juga mencatat adanya penurunan efektivitas first line antibiotics pada kasus pneumonia, yaitu, dari sekitar 65% di tahun 2016 menjadi sekitar 43% di tahun 2021.

Bagaimana cara kita untuk dapat terhindar dari infeksi Superbug?

Dilansir dari CDC, terdapat sejumlah cara untuk mencegah terjadinya infeksi Superbug. Yang pertama adalah senantiasa menjaga kebersihan, agar kita terhindar dari paparan kuman yang dapat menginfeksi kita. Yang kedua adalah memastikan kelengkapan vaksinasi kita dan keluarga, karena, antibodi yang terbentuk dari vaksinasi dapat membantu tubuh kita untuk memerangi infeksi. Hal ini diharapkan ketergantungan tubuh kita terdapat antimikroba dapat dikurangi, karena tubuh kita telah memiliki antibodi yang mumpuni.

Cara yang ketiga adalah dengan membatasi interaksi dengan hewan, terutama hewan liar yang berpotensi membawa kuman penyebab infeksi kepada kita. Yang keempat adalah mencegah perburukan infeksi yang kita alami. Hal ini dimaksudkan agar infeksi yang kita alami dapat tertangani dengan obat yang ‘tidak begitu kuat’ dan kita tidak memerlukan obat yang ‘terlalu keras’. Yang kelima dan yang terpenting adalah menggunakan antibiotik dan antimikroba lainnya dengan bijak, sesuai indikasi, dan tentunya sesuai dengan anjuran dari dokter.

Stay safe and healthy, semuanya!
 
 
***
 
 

Sumber artikel:
https://www.alodokter.com/infeksi-bakteri#:~:text=Infeksi%20bakteri%20adalah%20penyakit%20infeksi,bahkan%20di%20dalam%20tubuh%20manusia
https://www.alodokter.com/resistensi-antibiotik
https://www.kompas.com/tren/read/2022/10/13/180000765/muncul-fenomena-superbug-di-india-yang-kebal-antibiotik-ini-kata-dokter?page=all
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3121272/
https://www.hindustantimes.com/health-and-fitness/what-is-superbug-ndm-1-s-india-connection/story-7uwo0eUZjr1S5xRICIfWdP.html
https://www.bbc.com/news/world-asia-india-63059585
 
 

 
 
 
 

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id