06 December 2021 1769
Reasuransi Jiwa

Mengenal Nyeri Dada

Selama ini, orang banyak menganggap nyeri dada sebagai keluhan yang identik dengan serangan jantung. Meskipun memang kita tidak boleh menganggap remeh nyeri dada, tentunya kita harus memahami bahwa ada penyakit/gangguan kesehatan lain yang juga ditandai dengan munculnya nyeri dada. Penyakit apakah itu, dan bagaimana cara membedakan nyeri dada akibat serangan jantung dan akibat penyebab lainnya?

laras-1
Sumber foto: www.freepik.com

Nyeri dada yang mengarah ke serangan jantung dikenal sebagai angina pectoris. Nyeri dada yang merupakan angina pectoris terjadi akibat tidak optimalnya asupan oksigen yang diterima oleh otot jantung. Penurunan asupan oksigen itu sendiri diakibatkan oleh penyempitan atau penyumbatan pada pembuluh darah arteri jantung, yang mengakibatkan asupan darah yang bertugas mendistribusikan oksigen ke sel-sel otot jantung menjadi berkurang.

Angina pectoris ditandai dengan adanya nyeri dada sebelah kiri (pada bagian jantung) yang sangat berat, serta membuat penderitanya merasa tertindih, tertusuk, terbakar, atau ‘penuh/sumpek’ pada bagian dadanya. Nyeri tersebut tidak hanya terasa di area dada, melainkan juga dapat menjalar hingga ke area rahang, leher, bahu, lengan, sampai ke punggung. Penderita angina pectoris juga umumnya mengalami beberapa gejala penyerta seperti munculnya keringat berlebihan yang tanpa sebab (misalnya, sedang tidak berada di ruangan yang panas atau tidak sedang beraktivitas berat), mual, muntah, kelelahan yang sangat berat, pusing, serta sesak nafas.

Berdasarkan karakteristik gejalanya, angina pectoris dibedakan menjadi stable angina pectoris dan unstable angina pectoris. Stable angina pectoris dicirikan dengan angina pectoris yang muncul saat penderitanya sedang beraktivitas berat atau mengalami stress/emosi tertentu. Stable angina pectoris ini biasanya terjadi dalam durasi yang singkat (sekitar 5 menit). Selain itu, stable angina pectoris juga relatif memiliki pola teratur yang dapat diprediksikan dan berpotensi untuk diatasi dengan lebih baik. Misalnya, seseorang sudah paham kalau setelah berolahraga berat dirinya dapat mengalami angina pectoris, sehingga dirinya menghindari berolahraga dengan intensitas yang berat.

laras-2
Sumber foto: www.freepik.com

Berbeda dengan stable angina pectoris, unstable angina pectoris (UAP) merupakan tipe angina pectoris yang jauh lebih berbahaya. UAP dapat muncul tiba-tiba tanpa terprediksi, dan sering kali muncul tanpa trigger khusus. Berdasarkan data yang ada, UAP bahkan tidak jarang muncul pada saat penderitanya sedang beristirahat, bersantai, dan bahkan tidur. UAP juga dapat terjadi dalam intensitas yang lebih berat dan durasi yang lebih panjang dari stable angina pectoris. Selain itu, UAP juga tidak dapat diredakan hanya dengan beristirahat. Oleh karena itu, penderita UAP sangat direkomendasikan untuk segera memeriksakan dirinya serta mendapatkan pertolongan dan tindakan yang adekuat.
Bagaimana dengan nyeri dada yang bukan merupakan gejala dari serangan jantung?

Salah satu penyakit/gangguan kesehatan yang juga dapat menimbulkan gejala nyeri dada adalah Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) alias ‘penyakit asam lambung’. GERD terjadi ketika katup di puncak lambung tidak berfungsi dengan baik, sehingga asam lambung naik dan melukai dinding kerongkongan/esofagus. Nyeri dada pada GERD sebenarnya disebabkan oleh reflux asam lambung dari lambung ke kerongkongan/esofagus, yang menyebabkan rasa panas, terbakar, serta nyeri pada dada. Oleh karena rasa panas dan terbakar itulah, nyeri dada pada GERD juga dikenal sebagai heartburn.

Dikarenakan dekatnya lokasi antara kerongkongan/ esofagus dengan jantung, orang yang mengalami GERD sering salah menduga kalau mereka mengalami nyeri dada akibat serangan jantung. Oleh karena itu, kita harus memperhatikan gejala-gejala lain yang menyertai heartburn seperti adanya sensasi pahit pada lidah dan perut yang kembung/begah. Selain itu, heartburn akibat GERD juga umumnya dipicu oleh konsumsi makanan, serta dapat diperberat pada posisi tertentu seperti berbaring dan membungkuk. Selain dari gejala dan sensasinya, heartburn pada GERD juga umumnya langsung dapat membaik dengan pemberian obat-obatan seperti antacids, H-2 receptor blocker, dan PPIs.


laras-3
Sumber foto: www.freepik.com

Meskipun tidak secara langsung membahayakan nyawa seperti serangan jantung, kita tidak boleh meremehkan GERD, karena, GERD yang terjadi secara terus-menerus berpotensi untuk menyebabkan perlukaan pada esofagus kita. Paparan asam lambung secara terus-menerus dapat merusak sel-sel esofagus kita, dan mengubahnya menjadi sel kanker. Perlukaan pada esofagus tersebut dikenal sebagai Barrett’s Esophagus, dan kondisi tersebut dapat terjadi pada 10 – 15% penderita GERD, terutama yang telah mengalaminya selama lebih dari 8 tahun.

Selain heartburn akibat GERD, nyeri dada juga dapat ditimbulkan oleh pleuritis (pleurisy), yang merupakan peradangan pada selaput pembungkus paru-paru (pleura). Keberadaan pleura ditujukan untuk menjaga paru-paru agar tidak bergesekkan secara langsung dengan dinding rongga dada serta struktur-struktur lainnya. Di antara pleura dan paru-paru, terdapat cairan pleura yang berfungsi sebagai pelumas untuk membantu mengurangi terjadinya gesekkan saat kita bernafas (paru-paru mengembang dan mengempis).

Pleuritis terjadi ketika terjadi infeksi atau iritasi pada pleura, sehingga pleura menjadi meradang. Peradangan ini membuat pleura menjadi membengkak dan cairan pleura pun menjadi lengket. Kondisi ini akan menimbulkan nyeri dada, terutama saat kita menarik nafas, karena paru-paru kita akan mengembang dan lapisan pleura akan bergesekkan. Selain nyeri dada saat menarik nafas, beberapa gejala lain yang dapat dirasakan oleh penderita pleuritis di antaranya adalah demam, menggigil, sesak nafas, serta batuk kering.

Tidak semua masyarakat awam memahami apakah nyeri dada yang dialaminya merupakan nyeri dada yang mengarah ke serangan jantung atau tidak. Apalagi, bagi wanita, gejala dari serangan jantung umumnya tidak spesifik, melainkan juga dapat terjadi dalam bentuk gejala-gejala umum seperti mual, muntah, gangguan pencernaan, atau rasa kelelahan. Inilah pentingnya kita memahami faktor risiko kesehatan yang kita miliki, untuk memperkirakan apa saja kira-kira penyakit yang mungkin kita derita. Misalnya, apabila kita memiliki faktor risiko seperti obesitas, kolesterol tinggi, hipertensi, serta diabetes, kita mungkin dapat berisiko untuk menderita penyakit jantung, stroke, atau gagal ginjal.

Apabila kita memang memiliki faktor risiko yang dapat mencetuskan potensi penyakit atau serangan jantung, sudah selayaknya kita rutin melakukan pemeriksaan kesehatan, termasuk di antaranya deteksi penyakit jantung koroner. Beberapa pemeriksaan kesehatan yang dapat kita lakukan di antaranya adalah elektrokardiogram (EKG), echocardiogram, EKG exercise/treadmill test, CT scan jantung, atau angiography. Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut perlu dilakukan untuk memastikan kita mendapatkan penanganan sedini mungkin, apabila memang ternyata kita memiliki penyakit jantung koroner.

Penyakit jantung koroner memang berpotensi untuk menyebabkan kita mengalami serangan jantung. Meskipun demikian, penyakit jantung koroner yang terdeteksi dengan dini bisa mendapatkan penanganan yang adekuat, yang pada akhirnya dapat mencegah terjadinya serangan jantung. Bagi pasien penyakit jantung koroner, dokter spesialis jantung umumnya akan memberikan obat-obatan seperti blood-thinner, vasodilator, beta-blocker, serta obat-obatan lainnya yang dapat menurunkan risiko perburukkan penyempitan dan penyumbatan pembuluh darah.

Selain itu, dokter juga dapat merekomendasikan pasien untuk melakukan tindakan seperti kateterisasi jantung, pemasangan ring jantung, ataupun pembedahan bypass, di mana, rekomendasi atas tindakan-tindakan tersebut akan bergantung pada kondisi pasien masing-masing, serta seberapa berat penyempitan/penyumbatan yang terjadi pada pembuluh darah jantung.

Hal yang tak kalah penting adalah pasien harus menerapkan gaya hidup sehat yang dapat membantu memperbaiki kondisinya secara umum dan mencegah terjadinya komplikasi. Beberapa gaya hidup sehat yang direkomendasikan adalah rutin berolahraga sesuai dengan kapasitas fisik masing-masing, menerapkan pola makan yang bergizi, cukup beristirahat, menghindari stress, dan menghentikan kebiasaan merokok.
Stay safe and healthy, semuanya!
 

 

***

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id