24 July 2020 901
Risiko Kesehatan

Mengenal Herd Immunity

Di tengah pandemi COVID-19 ini, muncul sebuah istilah yang bernama ‘herd immunity’, yang mana, digadang-gadang menjadi solusi dari pandemi ini. Herd immunity sebenarnya bukanlah istilah baru pada dunia kesehatan. Herd immunity alias kekebalan komunitas, pertama kali diperkenalkan kepada dunia oleh dua ahli mikrobiologi yang bernama William Topley dan Graham Selby Wilson pada tahun 1923. Kedua ilmuwan ini mengilustrasikan herd immunity sebagai kekebalan yang dimiliki oleh suatu kelompok atas suatu penyakit, yang mana disebabkan oleh sebagian besar orang pada kelompok tersebut telah memiliki kekebalan atas penyakit tersebut. Dengan kata lain, kekebalan yang dimiliki oleh sebagian orang, dapat turut melindungi sebagian orang lainnya yang belum memiliki kekebalan.

 

 

Sumber foto: https://www.bjp-online.com/2018/12/portrait-of-humanity-the-guardians-david-levene-on-capturing-the-city/

 

Kekebalan tubuh sendiri dapat dicapai melalui dua hal. Yang pertama adalah dengan cara vaksinasi, di mana tubuh akan disuntikan dosis kecil dari virus atau bakteri -yang merupakan agen penyebab infeksi- yang telah dilemahkan. Hal tersebut bertujuan untuk ‘mengenalkan’ virus atau bakteri tersebut kepada sistem kekebalan tubuh, agar sistem kekebalan tubuh dapat mempersiapkan antibodi alias ‘tentara khusus’ yang dapat memerangi virus atau bakteri tersebut jika suatu saat si tubuh benar-benar terinfeksi. Antibodi di sini merupakan molekul-molekul yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan infeksi dan merespon partikel asing atau antigen yang masuk ke dalam tubuh. Nah, vaksinasi inilah yang bertugas menginduksi sistem kekebalan untuk menghasilkan molekul-molekul ini.

 

Bagaimana caranya vaksinasi dapat menciptakan herd immunity?

Misalnya, ketika seseorang mendapatkan vaksin polio, tubuhnya akan membentuk kekebalan spesifik alias antibodi atas virus polio. Suatu saat, ketika ada virus polio sungguhan yang memasuki tubuh orang tersebut, sistem imun dari orang tersebut telah siap untuk melawan si virus polio, sehingga virus ini mati dan tidak sampai menyebabkan penyakit polio. Kalaupun orang itu tetap terinfeksi polio, maka dampak dari polio yang dideritanya tidak akan terlalu berat apabila dibandingkan jika orang tersebut tidak menerima vaksin polio.

 

Bayangkan, apabila dalam suatu waktu yang bersamaan, hampir semua orang dalam suatu kelompok yang sama dengan orang tadi juga divaksinasi polio dan memiliki kekebalan terhadap virus polio. Tentunya, kesempatan virus polio untuk dapat menyebar dan menimbulkan penyakit pada kelompok tersebut menjadi sangat kecil. Secara otomatis, kondisi ini juga dapat memberikan perlindungan kepada orang yang belum atau tidak bisa mendapatkan vaksin polio di kelompok tersebut, seperti bayi baru lahir, ibu hamil, lansia, atau orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, seperti penderita AIDS, penderita penyakit autoimmune, dan orang yang sedang menjalani kemoterapi.

 

Sumber foto: https://nasional.kompas.com/read/2020/06/10/16391901/kelompok-rentan-perlu-mendapat-perlindungan-di-tengah-pandemi

 

Cara kedua untuk mendapatkan kekebalan tubuh adalah dengan terjadinya infeksi alami. Sama seperti proses vaksinasi, saat virus atau bakteri masuk dalam proses infeksi, tubuh kita akan membentuk antibodi atas virus atau bakteri tersebut. Setelah pulih dari suatu penyakit tersebut, tubuh akan ‘mengingat’ infeksi tersebut dan tubuh akan memiliki antibodi untuk melawan virus atau bakteri tersebut bila suatu saat mereka menyerang kembali.

 

Hingga saat ini, vaksin untuk menangkal infeksi SARS-CoV-2 masih dalam tahap pengembangan, dan sementara itu, setiap harinya ratusan ribu orang menambah jumlah kasus terkonfirmasi dan jiwa yang gugur karena penyakit ini juga masih terus bertambah dengan cukup signifikan. Dengan belum adanya obat yang spesifik untuk mengatasi COVID-19 dan terbentuknya herd immunity melalui proses vaksinasi masih belum dapat terjadi, muncullah gagasan untuk menciptakan herd immunity dengan metode ‘pembiaran infeksi’.

 

Masalahnya adalah, pembentukan herd immunity dengan konsep ‘pembiaran infeksi’ ini memiliki risiko yang sangat besar. Untuk menciptakan herd immunity dengan metode ini, 60 – 80% masyarakat di suatu wilayah harus terinfeksi. Kita ambil contoh di Indonesia, ya. Saat ini, Indonesia memiliki sekitar 268 juta jiwa penduduk. Jika Indonesia menginginkan terbentuknya herd immunity dengan metode ‘pembiaran infeksi’, berarti 160 – 215 juta jiwa penduduk harus terinfeksi COVID-19. Dengan angka kematian alias case fatality rate (CFR) dari COVID-19 di Indonesia yang berkisar pada angka 5%, maka, kemungkinan akan ada sekitar 10 juta jiwa penduduk yang menjadi korban jiwa sebelum tercapai herd immunity dengan metode ini. Oleh karena itu, pendapat dari World Health Organization (WHO) mengenai pembentukan herd immunity dengan metode ‘pembiaran infeksi’ ini bukanlah cara yang bijak untuk menyelesaikan pandemi COVID-19 memang betul adanya.

 

Jika kita perhatikan, herd Immunity di sini menjadi seperti pisau bermata dua yang memiliki dua konotasi. Dalam konotasi yang positif, herd immunity akan turut melindungi individu yang belum memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit, jika pada kelompoknya terdapat cukup banyak individu yang sudah memiliki kekebalan terhadap penyakit tersebut. Sebaliknya, dalam konotasi yang negatif, proses terjadinya herd immunity, khususnya dengan metode pembiaran infeksi, akan memakan waktu yang panjang dan tentunya kemungkinan besar akan menimbulkan korban jiwa dalam jumlah banyak.

 

Sumber foto: https://www.trialsitenews.com/stanford-university-breakthrough-as-researchers-develop-antibody-test-for-covid-19/

 

Para ilmuwan di King’s College London saat ini sedang mempelajari metode tubuh dalam melawan SARS-CoV-2 dengan pembentukan antibodi. Hasilnya, penelitian tersebut mengungkapkan bahwa orang yang pernah terinfeksi dan pulih dari COVID-19 memang memiliki antibodi yang diperkirakan dapat membuat tubuhnya ‘kebal’ terhadap infeksi COVID-19 di masa mendatang. Namun sayangnya, kadar antibodi tersebut tidak bertahan lama, bahkan diinformasikan bahwa dalam waktu tiga bulan saja kadar antibodi tersebut telah mulai mengalami penurunan.

 

Antibodi memang seperti memori kita, beberapa hal dapat diingat dengan baik sampai jangka waktu yang panjang, dan beberapa hal lainnya hanya dapat diingat dalam jangka waktu pendek atau bahkan dapat terlupakan dengan sangat cepat. Lama atau tidaknya antibodi ini bertahan dapat tergantung dari banyak hal, termasuk dari agen penyebab infeksinya itu sendiri. Misalnya, antibodi yang tercipta dari vaksinasi campak dapat bertahan untuk waktu yang sangat lama sehingga vaksinasi campak dapat diberikan sekali saja seumur hidup. Sebaliknya, antibodi yang tercipta dari vaksinasi influenza hanya dapat bertahan dalam waktu 1 – 2 tahun, sehingga, setelah melewati kurun waktu tersebut, kita direkomendasikan untuk melakukan vaksinasi ulang untuk mempertahankan kekebalan yang ada.

Selain itu, terdapat hipotesis juga yang mengatakan bahwa tingkat keparahan suatu infeksi dapat menentukan kadar antibodi yang dimiliki oleh penderitanya. Sebuah penelitian di Wanzhou, China telah melakukan penelitian pada sekelompok orang yang positif menderita COVID-19. Sebagian dari mereka memiliki gejala dan sebagian lainnya tidak memiliki gejala. Hasil dari penelitian tersebut mengungkapkan bahwa dalam kurun waktu delapan minggu, sebanyak 81% orang yang tidak memiliki gejala telah mengalami penurunan kadar antibodi yang cukup signifikan, sementara pada kelompok yang bergejala, hanya 62% di antara mereka yang telah mengalami penurunan kadar antibodi. Kalau seperti ini, jadi ingat film Dragon Ball, ya. Semakin berat cedera yang diderita Son Goku dan kaum Saiyan, semakin kuat jadinya mereka nanti setelah pulih, hehehe.

 

Sumber foto: https://www.hiclipart.com/free-transparent-background-png-clipart-zjulc

 

Dengan mempertimbangkan bahwa kekebalan tubuh yang ada setelah terinfeksi COVID-19 mungkin tidak dapat bertahan lama, sepertinya pembentukan herd immunity dengan metode pembiaran infeksi menjadi sesuatu yang semakin kurang layak untuk dipertimbangkan. Selain itu, dengan mempertimbangkan bahwa virus dan strain-nya masih sangat mungkin untuk berubah dan berevolusi, sepertinya pemberian vaksin COVID-19 juga tidak dapat dilakukan dengan sekali pemberian saja, melainkan membutuhkan pemberian booster ke depannya agar dapat memberikan perlindungan optimal dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, mari bersama-sama kita berdoa, agar vaksin COVID-19 yang efektif dan aman dapat segera tercipta. Sementara itu, mari kita bersama saling menjaga dan meningatkan untuk selalu menerapkan pola hidup bersih dan sehat serta selalu tertib dalam menjalani protokol kesehatan yang ada.

 

 

 

***

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id