14 August 2019 1729

Penyebab Bau Badan

 
Memiliki aroma badan yang kurang sedap –alias bau badan- memang tidak menyenangkan. Bagaimana tidak, orang lain mungkin akan mengira kita tidak mengurus badan kita dengan baik. Padahal, semua cara merawat badan sudah kita lakukan. Mulai dari rajin mandi, hingga memakai wewangian. Yang lebih membingungkan, bau badan ternyata tidak hanya muncul pada orang yang bekerja di luar ruangan. Kita-kita yang sehari-hari menghabiskan waktu di ruangan ber-AC juga berisiko mengalami bau badan. Jadi sebenarnya, apa sih, penyebab timbulnya bau badan?
 
 
Sumber Gambar : idntimes.com
 
Pada dasarnya, keringat yang dikeluarkan oleh tubuh kita tidak memiliki aroma apapun. Keringat terdiri dari air, minyak, protein, dan garam. Tidak ada di antara komposisi tersebut yang dapat menyebabkan keringat menjadi berbau. Bau badan –yang dikenal juga sebagai bromhidrosis- ternyata merupakan suatu kondisi yang disebabkan oleh bakteri yang ada pada permukaan kulit kita. Bakteri tersebut akan memecah protein keratin yang berada dalam keringat menjadi asam. Asam inilah yang membuat keringat kita menjadi beraroma tidak sedap.
 
Nah, sebenarnya semua manusia memiliki bakteri di tubuhnya. Namun mengapa, ada orang yang keringatnya berbau dan ada yang tidak? Seperti yang telah kita ketahui, bakteri ada yang bersifat ‘baik’ dan ‘tidak baik’. Bakteri yang bersifat ‘baik’ akan membantu kita memelihara tubuh kita agar dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya. Sedangkan bakteri yang ‘tidak baik’ justru berpotensi menimbulkan penyakit atau gangguan kesehatan pada tubuh kita. Dalam kasus keringat ini, bakteri ‘tidak baik’ pada permukaan kulit akan menyebabkan timbulnya aroma yang tidak sedap pada keringat.
 
Sumber Gambar : doktersehat.com
 
Ada beberapa kondisi yang dapat menyebabkan pertumbuhan bakteri ‘tidak baik’ meningkat dan menyebabkan keringat menjadi berbau. Yang pertama adalah obesitas. Ternyata, obesitas tidak hanya berisiko menimbulkan penyakit cardiovascular saja. Orang yang menderita obesitas ternyata memiliki banyak pori-pori kulit yang tersembunyi di lipatan tubuhnya. Area tersebut biasanya bersifat hangat, gelap, dan lembab. Area seperti itulah yang disukai oleh bakteri ‘tidak baik’. Akhirnya, area tersebut menjadi sarang bakteri ‘tidak baik’ untuk berkembang biak sehingga jumlahnya menjadi sangat banyak.
 
Infeksi juga dapat menyebabkan keringat menjadi berbau. Bakteri yang terdapat pada kulit yang terinfeksi dapat menghasilkan keringat yang mengandung urea. Hal inilah yang menyebabkan keringat menjadi berbau. Oleh karena itu, jika kulit kita mengalami infeksi atau luka, sebaiknya segera diobati agar tidak semakin mengundang bakteri-bakteri yang ‘tidak diinginkan’.
 
Sumber Gambar : yokoent.com
 
Konsumsi makanan jenis makanan tertentu juga dapat menyebabkan keringat menjadi berbau. Misalnya, bawang merah, bawang putih, dan kari yang mengandung zat alisin serta brokoli dan kubis yang mengandung sulfur dan sulfida yang sama-sama membuat keringat menjadi berbau. Sebaliknya, kekurangan kandungan gizi tertentu, seperti zinc dan magnesium, juga dapat menyebabkan keringat berbau.
 
Konsumsi obat tertentu juga dapat memberikan efek samping berupa keringat yang berbau. Beberapa jenis obat, seperti aspirin, acetaminophen, anti-psikotik, dan anti-depressant sayangnya memiliki efek membuat produksi keringat menjadi berlebih. Keringat yang berlebih dapat membuat tubuh kita menjadi lembab sehingga menjadi tempat yang cocok untuk bakteri ‘tidak baik’ berkembang biak.
 
Menderita penyakit tertentu, misalnya diabetes mellitus, juga dapat menyebabkan keringat kita menjadi berbau. Penderita diabetes memiliki kadar gula darah yang tinggi dan tidak memiliki kemampuan pembakaran glukosa menjadi energi yang cukup baik. Akibatnya adalah, tubuh menjadi kekurangan energi untuk melakukan aktifitas harian. Untuk mengkompensasinya, tubuh akan melakukan pembakaran lemak untuk menghasilan energi. Proses pembakaran lemak akan menghasilkan banyak senyawa asam yang dapat menimbulkan aroma tidak sedap pada bau badan.
 
Penderita gangguan metabolisme juga dapat memiliki aroma badan yang tidak sedap. Misalnya adalah penderita trimethylaminuria. Kondisi ini menyebabkan tubuh tidak mampu memecah hormon trimetilamina, sehingga hormon tersebut akan dikeluarkan secara utuh melalui keringat, urine, dan aroma nafas. Akibatnya adalah, keringat, urine, dan aroma nafas penderitanya menjadi berbau.
 
Sumber Gambar : sharecare.com
 
Orang yang sering menahan buang air –baik itu buang air kecil maupun buang air besar- juga berpotensi mengalami bau badan. Pasalnya, menahan buang air dapat menimbulkan ‘tumpukan limbah’ pada tubuh kita. Lama-kelamaan, ‘limbah’ yang mengandung racun dan senyawa sisa tersebut akan dilepaskan keluar tubuh melalui pori-pori kulit. Bakteri yang berada pada permukaan kulit akan ‘menyambut limbah’ tersebut dan mengubahnya menjadi amoniak, yang jika bercampur dengan keringat akan menyebabkan keringat menjadi berbau.
 
Nah, itu merupakan beberapa kondisi yang menyebabkan keringat kita menjadi berbau. Jadi, kita sudah lebih paham ya, kalau menjauhkan tubuh dari bau badan bukan hanya sekedar dengan rajin mandi, menggunakan deodorant, dan menyemprotkan parfum saja. Merawat tubuh harus kita lakukan melalui luar dan dalam. Berikut ada beberapa tips yang dapat membantu kita agar dapat jauh dari bau badan:
 
?        Mandi teratur, minimal dua kali sehari, dan menggosok tubuh dengan bersih dan menyeluruh saat mandi
?        Menggunakan sabun anti-bakteri
?        Menggunakan deodorant atau anti-perspiran
?        Mengeringkan badan dengan benar, termasuk pada area yang tersembunyi seperti ketiak dan selangkangan
?        Mencukur rambut-rambut tubuh, terutama pada area yang tersembunyi seperti ketiak dan selangkangan
?        Menggunakan pakaian dengan bahan yang tepat dan mudah menyerap keringat
?        Mengkonsumsi air putih yang cukup
 
Selamat mencegah bau badan!
 
***

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id