07 April 2022 664
Reasuransi Jiwa

Mewaspadai Potensi Penyakit Ginjal pada Penyintas Covid

Mungkin kita semua telah memahami potensi masih adanya bahaya yang mengancam para penyintas Covid, bahkan setelah mereka dinyatakan sembuh dari Covid. Sekumpulan gejala yang dialami oleh penyintas tersebut dikenal sebagai Long Covid. Tidak ‘hanya’ keluhan dan hambatan dalam aktivitas saja, ternyata, ada beberapa penyakit yang kemunculannya dapat dipicu oleh riwayat infeksi Covid. Salah satu dari penyakit tersebut adalah penyakit ginjal. Yuk, kita bahas lebih lanjut, bagaimana penyakit ginjal dapat muncul pada penderita Covid!
 

daf

Sumber foto: www.freepik.com
 
Usia dari Covid masih dapat dikatakan ‘seumur jagung’, karena memang infeksi ini baru mulai merebak pada akhir tahun 2019. Meskipun demikian, selama kurang lebih dua tahun ke belakang ini, Covid yang sampai saat ini masih berstatus sebagai pandemi, telah berhasil menginfeksi ratusan jiwa penduduk dunia, menimbulkan korban jiwa sebanyak puluhan juta jiwa, dan tentunya telah meluluhlantakkan sistem kesehatan dunia. Dikarenakan usianya yang masih sangat belia, belum banyak penelitian yang mengakomodir dampak jangka panjang dari Covid terhadap penyintasnya, termasuk di antaranya penelitian terkait dengan Long Covid dalam jangka panjang. Meskipun demikian, telah ada beberapa studi yang menunjukkan adanya peranan Covid sebagai penyebab dari suatu penyakit. Salah satunya adalah studi di USA terkait keterkaitan antara penyakit ginjal dengan riwayat infeksi Covid pada penyintasnya.
 
Studi di USA ini dilakukan pada sekitar 1.7 responden, yang 89 ribu di antaranya merupakan penyintas Covid. Berdasarkan studi yang dipublikasikan pada Journal of American Society of Nephrology ini, ditemukan fakta bahwa seorang penyintas Covid berpotensi cukup tinggi untuk mengalami penyakit ginjal di kemudian hari. Beberapa faktor pemberat potensi tersebut di antaranya adalah apabila penyintas sebelumnya memang telah atau pernah mengalami infeksi/penyakit ginjal, memiliki berat badan berlebih (overweight atau obesitas), memiliki riwayat hipertensi, memiliki riwayat diabetes mellitus, memiliki gejala sedang – berat saat terinfeksi Covid, serta membutuhkan perawatan di RS, baik itu di ruang rawat inap biasa maupun di ICU.
 
Studi tersebut menunjukkan bahwa secara keseluruhan, penyintas Covid cenderung lebih berpotensi mengalami penurunan laju filtrasi glomerulus (estimated glomerulus filtration rate, e-GFR), jika dibandingkan dengan non-penyintas Covid. Penurunan fungsi penyaringan ginjal tersebut dikatakan mulai terdeteksi beberapa bulan setelah penyintas dinyatakan sembuh dari Covid. Studi tersebut menunjukkan sebanyak 5% penyintas mengalami penurunan e-GFR sebesar lebih dari 30%. Dengan mempertimbangkan bahwa orang dewasa secara alaminya akan mengalami penurunan e-GFR sebesar 1% pertahunnya, penurunan fungsi yang dialami oleh penyintas tersebut dapat dikatakan setara dengan penurunan fungsi ginjal selama 30 tahun.
 
Selain penurunan fungsi ginjal, penyintas Covid juga dikatakan berpotensi untuk mengalami cedera ginjal akut (acute kidney injury, AKI), yang merupakan kondisi di mana ginjal mengalami penurunan fungsi secara tiba-tiba dan irreversible. Angka kejadian AKI pada penyintas ini juga dikatakan cukup besar, yakni sekitar 15 – 25% dari penyintas Covid. Penyintas yang sebelumnya mengalami gejala berat –misalnya, acute respiratory distress syndrome (ARDS)- juga dikatakan memiliki potensi untuk menderita AKI lebih besar, yaitu sekitar 50%.
 
Meskipun pada umumnya AKI dapat membaik dalam hitungan jam hingga hari, tetap saja, AKI merupakan kondisi yang sangat mengganggu dan berbahaya bagi kesehatan penyintas. Beberapa gejala terkait AKI yang umumnya dialami di antaranya adalah penurunan volume urine secara signifikan, pembengkakan beberapa area tubuh, kelelahan, sesak nafas, mual, nyeri dada, dan kejang. Penyintas yang mengalami AKI dapat menerima terapi cuci darah (hemodialysis), terutama apabila terdapat gejala berat seperti asidosis, intoksikasi, uremia, gangguan keseimbangan elektrolit, dan pembengkakan berat pada tubuh. Untuk dapat menentukan apakah penyintas akan memerlukan hemodialysis atau tidak, dokter tentunya akan melakukan pemeriksaan fungsi ginjal seperti urinalisis, ureum, kreatinin, dan e-GFR.
 

fd

Sumber foto: www.freepik.com
 
Apakah gangguan fungsi ginjal pada penyintas ini dapat disembuhkan?
 
Apabila penyintas ‘hanya’ mengalami AKI, fungsi ginjal penyintas umumnya masih dapat normal kembali. Meskipun demikian, penyintas yang telah mengalami AKI, dikatakan berpotensi untuk mengalami penyakit ginjal kronis dalam beberapa tahun ke depan, terutama apabila penanganan yang dilakukan pada saat penyintas tersebut mengalami AKI tidak cukup adekuat.
 
Sementara itu, untuk penyintas yang mengalami gangguan ginjal kronis, maka kecil kemungkinan fungsi ginjal dari penyintas tersebut dapat normal kembali. Besar kemungkinan, penyintas tersebut akan membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang, atau bahkan terapi pengganti fungsi ginjal seperti hemodialysis sepanjang usia atau bahkan transplantasi ginjal.
 
Dengan melihat beratnya konsekuensi dari potensi penyakit ginjal pada penyintas, tidak mengherankan apabila penyintas sangat direkomendasikan untuk melakukan medical check-up (MCU) beberapa saat setelah dia dinyatakan sembuh. Adapun MCU tersebut dimaksudkan agar gangguan kesehatan dan potensi gangguan kesehatan yang dapat tertrigger oleh infeksi Covid, dapat sedini mungkin terdeteksi, dan tentunya dapat segera mendapatkan penanganan. Karena tentu saja, semakin lama gangguan kesehatan tersebut terdeteksi, semakin sulit kemungkinan gangguan kesehatan tersebut untuk hilang secara sempurna.

 
Adakah cara bagi penyintas untuk terhindar dari gangguan ginjal?
 

e

Sumber foto: www.freepik.com
 
Sayang sekali, tidak ada cara pasti yang dapat penyintas tempuh untuk mengindari suatu potensi Long Covid, termasuk menghindar dari potensi gangguan ginjal. Meskipun demikian, penyintas dapat menjaga kesehatan ginjalnya secara umum dengan mencukupi kebutuhan air, mengurangi konsumsi garam, mengkonsumsi makanan rendah lemak, berolahraga, memiliki berat badan ideal, cukup beristirahat, tidak mengkonsumsi rokok dan alkohol, serta mengendalikan penyakit komorbidnya apabila ada. Dengan melakukan hal tersebut, setidaknya, penyintas telah berupaya untuk menjaga kesehatan ginjalnya secara umum.
 
Stay safe and healthy, semuanya! J
 

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id