04 February 2019 8426

Fungsi Usus Buntu

 
Ada yang belum mengenal usus buntu?
 
Usus buntu, yang juga dikenal sebagai appendix, merupakan organ berbentuk selang kecil –kurang lebih ukurannya hanya sepanjang 11 cm- yang melekat pada usus besar tubuh manusia. Ujung dari selang ini buntu, alias tidak tersambung ke organ manapun lagi. Oleh karena itu, bagian dari usus ini populer dengan istilah usus buntu.
 
Sumber Gambar : webmd.com
 
Usus buntu selama ini dianggap tidak memiliki fungsi bagi tubuh kita. Bahkan, keberadaannya cenderung dianggap hanya sebagai ‘sarang penyakit’. Seperti yang kita sudah ketahui, jika si usus buntu mengalami peradangan, efeknya akan sangat luar biasa bagi tubuh kita. Kita akan merasa sakit perut yang amat sangat menyiksa sehingga tidak memungkinkan kita untuk beraktifitas. Oleh karena itu, pada sebagian kasus appendicitis –peradangan pada usus buntu-, dokter merekomendasikan dilakukan appendectomy alias pengangkatan usus buntu.
 
Namun ternyata, tahukah anda kalau usus buntu ini memiliki berbagai manfaat bagi tubuh kita? Penelitian-penelitian yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir membuktikan bahwa usus buntu memiliki sel limfoid yang dapat membantu tubuh melawan infeksi. Penelitian-penelitian tersebut menunjukkan bahwa peran usus buntu cukup signifikan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam hal ini, usus buntu dapat menjadi pertahanan awal dalam membantu proses melawan bakteri dan zat penyebab penyakit lainnya terutama pada saluran pencernaan.
 
Loren G. Martin, seorang ahli dari Oklahoma State University, menyatakan kalau usus buntu memiliki peran besar bahkan sejak manusia masih berada dalam bentuk janin. Saat janin berusia sekitar 11 minggu, sel-sel endoktrin yang berada pada usus buntu sudah mulai memproduksi berbagai hormon seperti hormon amine dan peptide. Hormon-hormon tersebut berperan dalam mekanisme homeostatic pada janin.
 
Saat bayi lahir, usus buntu berperan sebagai salah satu dari imunitas tubuh. Perannya kurang lebih sama seperti tonsil/amandel, yaitu menjadi sistem imun di saat sistem imun kita lainnya belum sempurna. Usus buntu menjadi lokasi penumpukan jaringan limfoid sampai kita berusia 20 – 30 tahun. Selama itu pula, usus buntu turut berperan dalam proses pematangan limfosit , salah satu bentuk dari sel darah putih, dan antibody immunoglobulin A (IgA).
 
Penelitian di Duke University Medical Centre juga menemukan fungsi lain dari usus buntu, yaitu sebagai wadah dari ‘bakteri baik’ yang dapat membantu kesehatan usus. Bakteri-bakteri baik ini turut berperan dalam proses pencernaan makanan dan proses penyembuhan usus setelah terserang infeksi. Bakteri-bakteri ini sebenarnya banyak ditemui pada bagian manapun dari usus. Sayangnya, jika tubuh terkena infeksi saluran pencernaan –seperti disentri atau kolera-, bakteri-bakteri baik ini juga dapat ikut terbuang keluar tubuh. Di sini lah peranan dari usus buntu sebagai produsen dari bakteri-bakteri baik untuk dalam mengembalikan keseimbangan di saluran pencernaan.
 
Sumber Gambar : anhinternational.org
 
Walaupun ternyata usus buntu memiliki banyak fungsi bagi tubuh kita, usus buntu memang harus diakui rentan terserang infeksi. Sebagian besar penyebab infeksi dari usus buntu adalah makanan, yaitu makanan yang sudah menjadi feses, terutama yang strukturnya keras, yang disebut dengan fecalith. Infeksi juga dapat disebabkan oleh jenis makanan yang tidak tercerna dengan baik, misalnya biji-bijan. Feses atau makanan ini melewati saluran gastrointestinal, masuk secara tidak disengaja ke dalam struktur berongga dengan ujung buntu ini. Apapun yang masuk ke dalamnya akan tetap di sana tanpa ada jalan keluar, sehingga akan mengendap di dalam usus buntu. Pengendapan makanan atau fecalith di dalam usus buntu menyebabkan sumbatan dan terjadilah pertumbuhan bakteri yang berlebihan. Sebagai hasilnya timbullah peradangan, nanah, gas dan zat beracun.
 
Jika sudah usus buntu sudah mengalami infeksi dan peradangan hebat, serta menimbulkan gangguan kesehatan yang signifikan, inilah saatnya kita untuk ‘merelakan’ usus buntu kita untuk diangkat. Peradangan usus buntu yang dibiarkan berlarut-larut dapat menyebabkan usus buntu menjadi rupture/pecah dan akibatnya infeksi yang ada dapat tersebar meluas ke bagian tubuh lain. Dokter pasti akan mempertimbangkan banyak hal sebelum melakukan appendectomy. Yang pasti, jika usus buntu kita diangkat, pasti itu bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi akibat peradangan si usus buntu.
 
Apakah dengan diangkatnya usus buntu kita akan lebih rentan terkena penyakit?
 
Ada penelitian yang menyatakan kalau orang dengan usus buntu yang telah diangkat memerlukan waktu lebih lama untuk sembuh dari infeksi saluran pencernaan. Hal ini mungkin karena produsen dari bakteri-bakteri baik telah berkurang. Namun secara umum, kekebalan tubuh kita harusnya tidak terganggu ya, karena tubuh kita memiliki banyak sumber imunitas lain.
 
Sumber Gambar : ezfit.sg
 
Jadi, jangan terlalu khawatir, ya!
 
***

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id