02 February 2022 656
Reasuransi Jiwa

Flurona, Infeksi Apakah Itu?

Di saat dunia masih berjuang dengan peningkatan kasus Covid Varian Omicron, sebuah pemberitaan tentang ‘infeksi baru’ turut muncul. Infeksi baru tersebut dikenal sebagai Flurona. Nah, apakah sebenarnya Flurona ini merupakan penyakit infeksi baru atau sebuah varian baru lagi dari Covid?
 

fgg

Sumber foto: www.freepik.com
 
Flurona yang namanya sedang naik daun ini ternyata bukanlah sebuah penyakit infeksi baru ataupun varian baru dari Covid. Flurona merupakan kondisi di mana terjadi ko-infeksi alias infeksi ganda Influeza dan Covid pada seseorang, pada waktu yang bersamaan. Kasus pertama Flurona ditemukan pertama kali di Israel pada seorang wanita hamil berusia sekitar 30 tahunan. Wanita tersebut dilaporkan datang ke Beilinson Hospital di Petah Tikva karena gejala yang mengarah ke Covid, dan kemudian menjalani rawat inap di RS tersebut. Berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh tim dokter, wanita tersebut terkonfirmasi positif menderita Covid dan Influenza. Setelah menjalani perawatan selama beberapa hari, kondisi wanita tersebut dilaporkan telah membaik dan akhirnya diperbolehkan untuk pulang dalam kondisi sehat, baik untuk ibu maupun janinnya.
 
Beberapa hari setelah temuan kasus pertama di Israel, Texas Children’s Hospital juga mengumumkan bahwa di RS mereka telah ditemukan kasus ko-infeksi Flurona. Kali ini, kasus Flurona terjadi pada pasien anak yang berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh tim dokter, terkonfirmasi positif menderita Influenza Tipe A dan Covid. Pasien anak tersebut dilaporkan tidak mengalami gejala yang berat, oleh karena itu, tim dokter merekomendasikannya untuk menjalani rawat jalan dan pemulihan di rumah saja.
Dengan melihat telah mulai bermunculannya kasus ko-infeksi Flurona ini, tentunya kita menjadi cukup khawatir apakah turut adanya infeksi Influenza pada penderita Covid dapat memperberat gejala dan memperburuk kondisi dari pasien Covid tersebut.
 

gfdgs

Sumber foto: www.freepik.com
 
Berdasarkan data pada kasus Flurona dengan jumlah yang sangat terbatas, memang belum ditemukan bukti yang mengarah pada dugaan peningkatan potensi terjadinya gejala yang lebih berat pada penderita ko-infeksi Flurona, jika dibandingkan dengan gejala pada penderita Covid. Meskipun demikian, kita harus mengingat bahwa jumlah kasus ko-infeksi Flurona yang ditemukan dan dikonfirmasi masih sangat terbatas, dan penderitanya pun segera mendapatkan penanganan yang adekuat di RS.
 
Menyikapi konfirmasi temuan kasus ko-infeksi Flurona, Pemerintah dan Otoritas Kesehatan Israel menyampaikan bahwa mereka memang menemukan adanya kecenderungan peningkatan kasus Influenza di Israel dalam beberapa minggu ke belakang. Dilaporkan terdapat sekitar 2,000 orang yang tengah atau telah menjalani rawat inap di RS, baik karena terkonfirmasi Covid maupun Influenza. Pemerintah Israel juga menyampaikan bahwa dengan peningkatan kasus Covid Varian Omicron di dunia yang saat ini sedang terjadi, mereka mengkhawatirkan potensi terjadinya ‘twindemic’ dari ko-infeksi Flurona, yang tentunya dapat semakin mengganggu kestabilan sistem kesehatan dunia.
 
Centers for Disease Control and Prevention (CDC) USA turut mengamini potensi terjadinya lebih banyak kasus ko-infeksi Flurona, dikarenakan, saat ini dunia tengah mengalami musim dingin/penghujan yang umumnya identik dengan peningkatan kasus Influenza. CDC USA menilai bahwa meskipun untuk saat ini Covid Varian Omicron maupun Influenza ‘hanya’ menyebabkan gejala ringan, akan sangat baik apabila dunia dapat lebih mewaspadai dampak negatif dari ko-infeksi Flurona, baik dampaknya secara jangka pendek maupun jangka panjang.

Senada dengan CDC USA, dr. Adrian Burrowes selaku Assistant Professor of Family Medicine at the University Central Florida turut menyampaikan kekhawatiran adanya dampak negatif pada sistem imun penderita ko-infeksi Flurona. Seberapapun ringannya suatu infeksi, apabila seorang penderita mengalami dua atau lebih infeksi pada waktu yang bersamaan, potensi mortalita serta morbidita penderita tersebut tetap akan meningkat. Dr. Adrian Burrowes menyampaikan kekhawatiran yang terkait dengan ‘catastrophic immune system’, di mana, kejadian ko-infeksi dapat berpotensi meningkatkan agresifitas dari imun sistem penderitanya, yang salah-salah justru akan menyerang tubuh penderita itu sendiri. Kekhawatiran dan hipotesis dari Dr. Adrian Burrowes ini mungkin bukannya tanpa dasar, mengingat, penyintas Covid juga masih harus mengalami fenomena ‘long Covid’, yang masih mengganggu kesehatan serta kualitas hidupnya, jauh setelah dirinya dinyatakan sembuh dari Covid.
 
Terlepas dari potensi dampak jangka panjang, kita juga masih perlu mengkhawatirkan potensi dampak jangka pendek dari ko-infeksi Flurona. Meskipun wanita hamil yang terkonfirmasi ko-infeksi Flurona di Israel itu tertangani dengan baik, Kementerian Kesehatan Israel menyampaikan bahwa satu minggu sebelumnya, seorang wanita hamil berusia 31 tahun datang ke Hadassah Medical Center. Wanita tersebut datang karena gejala flu yang dinilainya sangat mengganggu. Pada saat itu, tidak dilakukan pemeriksaan untuk memastikan ada tidaknya ko-infeksi Flurona. Dikarenakan usia kehamilan wanita tersebut telah mencapai sembilan bulan, tim dokter akhirnya memutuskan untuk melakukan operasi caesar pada wanita tersebut. Bayi dari wanita tersebut lahir dalam kondisi sehat, namun, karena kondisi yang terus memburuk pasca operasi caesar, wanita tersebut harus menjalani perawatan di ruang ICU dan menggunakan ventilator. Setelah mengalami komplikasi saluran pernafasan dan kondisi yang kian memburuk, wanita tersebut akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
 
Menyikapi dua outcome yang sangat berbeda pada kasus –serta potensi kasus- ko-infeksi Flurona di atas, sudah selayaknya kita tidak memberikan ruang untuk bersikap lengah atas kondisi pandemi yang saat ini tengah berlangsung. Covid Varian Omicron memang sampai sekarang masih belum menunjukkan potensi menimbulkan gejala berat atau fatalitas seperti yang disebabkan oleh Covid Varian Delta sebelumnya. Namun, kita harus mengingat bahwa di awal kemunculannya, Covid Varian Delta juga ‘belum’ menyebabkan banyak fatalitas. Tingginya angka kematian dari Covid Varian Delta disebabkan karena overcapacity dari rumah sakit dan fasilitas kesehatan, sehingga, banyak penderita yang terlambat menerima penanganan. Nah, apakah kita mau menunggu kasus Covid Varian Omicron ‘meledak’ dulu sebelum mulai mengetatkan protokol kesehatan kembali? Tentu tidak, kan.
 
Jadi, apa yang harus kita lakukan untuk mencegah terjangkit ko-infeksi Flurona?
 
Yang pertama, tentu saja kita harus kembali mengetatkan protokol kesehatan kita dengan konsisten. Kasus Covid Varian Omicron di Indonesia sudah semakin meningkat, dan mengingat Varian Omicron memiliki kemampuan transmisi yang sangat tinggi jika dibandingkan dengan Varian Covid lainnya, kita harus semakin meningkatkan kewaspadaan agar tidak terinfeksi Covid. Jangan malas menggunakan masker dan mencuci tangan, serta, jangan berpergian dari rumah apabila tidak urgent. Hindari juga kumpul-kumpul dengan orang di luar rumah, karena kita tidak tahu pasti apakah mereka sehat atau justru sebenarnya sedang terinfeksi Covid. Mungkin kondisi kesehatan kita baik, sehingga, kalaupun kita terinfeksi Covid, kita ‘hanya’ akan mengalami gejala ringan. Tapi, bagaimana dengan orang serumah, keluarga, atau teman lainnya yang akan kita temui? Bagaimana jika kondisi kesehatan serta imun mereka tidak sebaik kita? Bagaimana jika mereka memiliki komorbid tertentu, yang menyebabkan mereka berpotensi mengalami gejala berat apabila terinfeksi Covid yang ‘kita bawa’?
 
Yang kedua, pastikan kita telah menerima Vaksin Covid dosis lengkap. Vaksin Covid memang tidak membuat kita kebal dari Covid, tetapi, bisa membuat kita terhindar dari gejala berat. Pastikan juga keluarga, teman, serta orang-orang sekitar kita juga telah menerima Vaksin Covid. Selain itu, apabila nantinya telah ada Program Vaksin Booster dari Pemerintah, pastikan untuk ikut yaa, agar kekebalan kita dapat lebih ter-upgrade!
 
Yang ketiga, selain Vaksin Covid, kita juga bisa melakukan Vaksin Influenza, lho! Vaksin Influenza dapat diberikan bahkan kepada anak-anak, selama anak tersebut telah berusia lebih dari enam bulan. Pemberian Vaksin Influenza dapat dilakukan satu tahun sekali, untuk memastikan, kita terhindar dari gejala berat apabila terpapar Virus Influenza.
 
Yang keempat dan terakhir, kita harus senantiasa menjaga kondisi kesehatan kita secara umum, seperti misalnya, mengkonsumsi makanan yang bergizi, mencukupi kebutuhan cairan, cukup beristirahat, melakukan olah raga dengan rutin, menghindari stress, serta mengindari mengkonsumsi alkohol atau tembakau (merokok). Ingatlah, kalau kondisi yang sehat dan prima akan turut membantu tubuh kita untuk terhindar dari gejala berat dan fatalitas saat mengalami infeksi.
 
Yuk, bisa, yuk, sehat semuanya! Aamiin!
 

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id