02 March 2017 34487

Cholelithiasis

Cholelithiasis adalah adanya batu pada saluran biliaris, yang umumnya berada pada kandung empedu. Pembentukan batu empedu disebabkan oleh adanya peningkatan konsentrasi pada substansi tertentu pada cairan empedu. Peningkatan konsentrasi tersebut menyebabkan pembentukan Kristal mikroskopik. Kristal tersebut, jika berkontak dengan mucus kandung empedu dapat membentuk endapan yang lama kelamaan akan membentuk Kristal makroskopik yang dikenal sebagai batu empedu.



Cholelithiasis adalah adanya batu pada saluran biliaris, yang umumnya berada pada kandung empedu. Pembentukan batu empedu disebabkan oleh adanya peningkatan konsentrasi pada substansi tertentu pada cairan empedu. Peningkatan konsentrasi tersebut menyebabkan pembentukan Kristal mikroskopik. Kristal tersebut, jika berkontak dengan mucus kandung empedu dapat membentuk endapan yang lama kelamaan akan membentuk Kristal makroskopik yang dikenal sebagai batu empedu.

Sebagian besar (sekitar 80%) dari batu empedu merupakan batu kolesterol. Sel pada liver mensekresi kolesterol yang akan menjadi salah satu elemen dari cairan empedu. Jika konsentrasi kolesterol pada cairan empedu semakin tinggi, maka batu empedu akan membentuk Kristal empedu yang kaya akan kolesterol. Oleh karena itu, cholelithiasis dapat dicegah dengan mengkonsumsi makanan rendah lemak dan menjalani gaya hidup sehat.

Berikut adalah tahapan dari cholelithiasis:

  1. Fase lithogenic, yaitu fase di mana terjadi pembentukan batu empedu
  2. Asymptomatic cholelithiasis, yaitu fase di mana batu empedu sudah terbentuk namun penderita belum merasakan adanya gejala atau gangguan
  3. Symptomatic cholelithiasis, yaitu fase di mana penderita sudah merasakan adanya gejala atau gangguan berupa kolik biliaris
  4. Cholelithiasis dengan komplikasi, yaitu fase di mana keberadaan batu empedu sudah menimbulkan komplikasi

Batu empedu dapat terbentuk cukup lama sebelum akhirnya menunjukkan gejala. Umumnya, gejala yang penderita rasakan diakibatkan oleh perpindahan batu empedu ke ductus cysticus sehingga terjadi sumbatan aliran empedu. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan tekanan dinding kandung empedu dan menimbulkan nyeri yang disebut dengan kolik biliaris. Jika obstruksi pada ductus cysticus semakin berat, maka kandung empedu dapat meradang. Kondisi inilah yang disebut dengan cholecystitis akut.

Gejala yang umumnya timbul pada penderita cholelithiasis adalah kolik biliaris, yaitu rasa nyeri yang terlokalisir pada area epigastrium atau perut kanan atas dan dapat merambat ke area bahu kanan. Nyeri yang muncul biasanya terjadi setelah makan dan berlangsung selama 1-5 jam. Nyeri yang muncul biasanya bersifat tumpul dan intens, dengan klimaks rasa nyeri berlangsung sekitar 10-20 menit. Nyeri yang muncul dapat disertai adanya mual, muntah, buang angin, buang air besar, namun semua itu tidak meredakan nyeri yang ada. Selain itu, penderita juga dapat merasa kembung atau mengalami dyspepsia.

 

Penderita cholelithiasis umumnya akan merasakan periode cholecystitis akut, yaitu peradangan kandung empedu akibat adanya batu empedu. Penderita akan merasakan nyeri pada perut kanan atas yang bersifat rebound (Murphy’s Sign), demam, berkeringat, dan denyut jantung cenderung lebih cepat.

Dokter akan menegakkan diagnosis cholelithiasis melalui beberapa pemeriksaan. Jika penderita mengeluhkan gejala yang cenderung ke arah cholelithiasis, maka dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan beberapa pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan darah, pemeriksaan USG, CT scan, atau MRI abdomen.

Pengobatan cholelithiasis bergantung pada tahapan dari penyakit. Tujuan pengobatan cholelithiasis pada tahap lithogenic adalah mencegah terbentuknya batu empedu. Penderita asymptomatic cholelithiasis akan menerima pengobatan konservatif yang bertujuan mencegah batu bertambah besar dan menimbulkan gangguan. Jika cholelithiasis sudah menimbulkan gejala, dokter biasanya menyarankan dilakukan tindakan berupa lithotripsy atau cholecystectomy.

Sebagian besar kasus cholelithiasis umumnya bersifat asymptomatic. Mortalitas pada pasien cholelithiasis sangat rendah dan biasanya terjadi pada penderita yang menjalani cholecystectomy, yaitu hanya sekitar 0.5% untuk cholecystectomy elektif dan 3-5% untuk cholecystectomy emergency.

 

 

*********

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id