28 September 2021 290
Reasuransi Jiwa

Tentang Varian Mu

Beberapa minggu terakhir ini kita mendengar adanya kehadiran sebuah ‘varian baru’ dari Virus Covid, yang disebut sebagai Varian Mu. Beberapa pemberitaan yang beredar menyebutkan bahwa Varian Mu ini ‘lebih ganas’ jika dibandingkan dengan Varian Delta dan varian-varian lainnya. Apakah pemberitaan tersebut benar adanya?
 

laras1
Sumber foto: www.freepik.com

Varian Mu merupakan pelabelan yang diberikan oleh World Health Organization (WHO) kepada Virus Covid Varian B.1.621 dalam PANGO Lineage. Varian Mu ini pertama kali teridentifikasi pada 11 Januari 2021 di Kolombia. Seiring dengan perluasan penyebarannya, Varian Mu ditetapkan oleh WHO sebagai salah satu Variant of Interest (VOI) dari SARS-CoV-2 pada tanggal 30 Agustus 2021. Per-1 September 2021 ini, Varian Mu dilaporkan telah teridentifikasi pada setidaknya 39 negara.

Apakah kalian telah mengetahui perbedaan antara Variant of Interest (VOI) dan Variant of Concern (VOC)?
Pada kondisi pandemi seperti ini, para ilmuwan di berbagai belahan dunia selalu melakukan pengawasan terhadap varian-varian dari Virus Covid. Pengawasan tersebut terutama dilakukan kepada varian yang dinilai memiliki perubahan genetik yang berpotensi menyebabkan varian tersebut menjadi lebih infeksius atau menyebabkan penyakit yang lebih berat jika dibandingkan dengan varian-varian yang lain.

Berdasarkan pengawasan dari para ilmuwan tersebut, WHO akan menetapkan apabila sebuah varian ‘layak’ untuk dimasukkan ke dalam VOI atau VOC. Sebuah varian virus akan dimasukkan ke dalam VOI apabila varian tersebut dinilai memiliki akselerasi potensi dari segi penularan, keparahan penyakit, immune escape, diagnostic escape, atau therapeutic escape.

Selain itu, sebuah varian virus juga bisa dimasukkan ke dalam kategori VOI apabila varian tersebut telah teridentifikasi menyebabkan peningkatan penularan atau jumlah kasus baru pada suatu daerah, menimbulkan adanya beberapa klaster kasus Covid pada beberapa negara, dan dinilai bisa meningkatkan ancaman terhadap kesehatan masyarakat secara global.

Laras-2

Sumber foto: www.freepik.com

Varian Mu sendiri merupakan salah satu dari lima Varian Virus Covid yang saat ini ditetapkan WHO sebagai VOI. Sebelumnya, terdapat empat Varian Virus Covid yang telah ditetapkan WHO sebagai VOI, yaitu Varian Eta (Lineage B.1.525), Varian Iota (Lineage B.1.526), Varian Kappa (Lineage B.1.617.1), dan Varian Lambda (Lineage C.37, sebelumnya dikenal sebagai Varian Peru).

Pengawasan terhadap suatu varian virus tidak hanya berhenti saat varian tersebut dikategorikan WHO masuk ke dalam klasifikasi tertentu. Pengawasan akan terus dilakukan untuk melihat apakah varian virus tersebut dapat ‘dibebaskan’ dari pengawasan karena dinilai tidak lagi memiliki potensi bahaya, atau justru varian tersebut ‘naik kelas’ dari VOI ke VOC, misalnya, karena varian tersebut telah terbukti meningkatkan penularan di masyarakat, menurunkan efektivitas sistem pelayanan kesehatan di masyarakat, atau menurunkan kemampuan pemeriksaan diagnostik, kemampuan antibodi vaksin, dan resistensi pengobatan.

Dikutip dari WHO’s COVID-19 Weekly Epidemiological Update yang dipublikasi pada 31 Agustus 2021, Varian Mu dikatakan memiliki serangkaian titik mutasi yang mengindikasikan adanya potensi immune escape. Pernyataan WHO tersebut didasari oleh studi yang dilakukan oleh Virus Evolution Working Group, di mana Varian Mu dinilai memiliki potensi untuk menurunkan netralisasi antibodi seperti yang diperlihatkan pada uji awal terhadap plasma konvalesen dan sera vaksin. Studi dari Virus Evolution Working Group ini sendiri masih dalam proses pendalaman analisa dan pengkajian.

laras-3

Sumber foto: www.freepik.com

Hasil studi dari Virus Evolution Working Group dan pernyataan WHO tersebut senada dengan studi yang dipublikasikan oleh Infection, Genetics, and Evolution, yang menyebutkan bahwa Varian Mu ini memiliki beberapa subsitusi yang turut menyebabkan perubahan pada spike protein dan asam amino. Varian Mu dikatakan membawa setidaknya 21 titik mutasi pada materi genetik SARS-CoV-2, di mana 9 titik mutasi di antaranya berada pada spike virus.

Beberapa mutasi kunci dari Varian Mu di antaranya adalah N501Y (seperti Varian Alpha), E484K (seperti Varian Beta), dan P681H (seperti Varian Delta). Mutasi-mutasi kunci tersebut dinilai bisa membuat Varian Mu memiliki kemampuan immune escape dan meningkatkan transmissibility dari SARS-CoV-2. Dengan melihat bahwa mutasi-mutasi kunci tersebut serupa dengan mutasi kunci yang terdapat pada beberapa varian yang masuk ke dalam VOC, sudah selayaknya kita tidak lengah dalam menghadapi Varian Mu ini.

Walaupun Varian Mu ini harus diakui memiliki potensi yang cukup mengkhawatirkan, untuk saat ini, perkembangan dan penyebaran Varian Mu masih dapat dikatakan sangat terkendali. Walaupun kasus Covid yang terkait dengan Varian Mu di Kolombia dapat dikatakan cukup tinggi (39% dari total kasus Covid di Kolombia), prevalensi Varian Mu secara global masih relatif rendah dan bahkan cenderung menurun (<0.1% dari total kasus Covid global). Varian Delta diketahui masih mendominasi kasus Covid secara global pada ±174 negara di seluruh dunia. Walaupun demikian, pengawasan terhadap Varian Mu masih terus dilakukan karena perkembangan Varian Mu tetap konsisten di Kolombia dan Ekuador.

Berdasarkan beberapa studi di atas, Varian Mu dikatakan memiliki potensi immune escape, yang mana dapat menurunkan efektifitas vaksin. Walaupun demikian, sebuah studi yang dipublikasikan pada Journal of Medical Virology menyatakan bahwa Vaksin Pfizer/BioNTech masih memiliki kemampuan yang cukup baik untuk menetralisir Varian Mu. Meskipun memang, kemampuan netralisir tersebut terdeteksi lebih rendah jika dibandingkan dengan kemampuan netralisir saat menghadapi Virus Covid varian-varian lainnya. Saat ini, studi ini masih dalam proses pengkajian lebih lanjut, dan semoga kita bisa mendapatkan update atas studi-studi serupa dari vaksin-vaksin Covid lainnya.

Mutasi virus merupakan proses yang alamiah dan dapat terjadi pada semua jenis virus. Selama penularan virus antar manusia masih terus terjadi, virus pun akan selalu bisa bermutasi sebagai bentuk adaptasinya terhadap antibodi inang yang dihinggapinya. Dengan demikian, secara tidak langsung, manusia sendirilah yang mentrigger terjadinya mutasi virus dan ‘menciptakan’ varian-varian virus tersebut. Oleh karena itu, untuk mencegah ‘terciptanya’ varian-varian baru lagi, kita harus kembali mengingat pentingnya penerapan protokol kesehatan yang konsisten, yang mana merupakan satu-satunya cara untuk bisa mengeliminasi transmisi virus di antara kita.

Stay safe and healthy, semuanya ?
 
 

***







 

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id