28 June 2021 613
Reasuransi Jiwa

Peningkatan Kasus COVID-19 pada Anak di Indonesia

Lonjakan kasus COVID-19 di Indonesia akhir-akhir ini memberikan dampak yang luas bagi seluruh kalangan masyarakat. Jika sebelumnya COVID-19 relatif lebih mungkin terjadi dan berdampak berat bagi kelompok usia tua dan penderita komorbid saja, saat ini, semua kelompok usia bisa terjangkit COVID-19. Yang lebih parahnya lagi adalah semua kelompok usia bisa mengalami gejala yang berat, bahkan fatalitas saat terinfeksi COVID-19, termasuk di antaranya anak-anak. Nah, sebenarnya apa yang menyebabkan anak-anak menjadi lebih terdampak COVID-19 pada beberapa minggu terakhir ini?
 
Berdasarkan data COVID-19 di DKI Jakarta per-17 Juni 2021, dilaporkan terdapat 661 anak yang terkonfirmasi positif COVID-19, di mana, 144 di antaranya adalah balita (usia 0 – 5 tahun). Data tersebut diperkuat oleh data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yang menunjukkan bahwa 12.5% dari penderita terkonfirmasi positif COVID-19 di Indonesia adalah anak-anak. Fenomena ini juga sebenarnya tidak hanya terjadi di Indonesia saja, karena, data pandemi di Malaysia juga menunjukkan bahwa per-Mei 2021, jumlah anak yang terkonfirmasi positif COVID-19 di Malaysia telah mencapai 80,000 anak.
 
Untuk dapat mengidentifikasi penyebab dari peningkatan kasus COVID-19 pada anak, kita harus mengingat kembali bahwa terinfeksinya seseorang atas suatu virus, dapat disebabkan oleh faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal yang dimaksud di antaranya adalah usia, genetik, penyakit komorbid yang diderita, serta imunitas orang tersebut. Sementara, untuk faktor eksternal dapat ditentukan oleh agen penyebab penyakit (misalnya, virus, bakteri, atau jamur) dan kondisi lingkungan sekitar orang tersebut (misalnya, kebersihan lingkungan serta ketertiban masyarakat sekitar terhadap protokol kesehatan).
 
Faktor internal dan eksternal di atas saling terkait dan sama pentingnya untuk menentukan apakah seseorang berisiko menderita suatu infeksi atau tidak. Misalnya, seseorang memiliki imunitas yang baik, namun dirinya terpapar virus yang ganas, maka, orang tersebut dapat berisiko tinggi untuk terinfeksi penyakit. Sebaliknya, jika seseorang memiliki imunitas yang kurang baik, namun lingkungan sekitarnya sangat patuh dan konsisten terhadap protokol kesehatan, maka risikonya untuk terinfeksi juga dapat relatif rendah.
 
Kehadiran Virus COVID-19 Varian Delta memang akhir-akhir ini selalu menjadi kambing hitam dari peningkatan kasus COVID-19 yang drastis, tidak hanya di Indonesia, namun juga di berbagai belahan dunia. Memang, berdasarkan studi serta data statistik yang ada, Virus Varian Delta ini memiliki kecepatan transmisi yang lebih tinggi –sekitar 1.6 kali lipat- jika dibandingkan dengan virus COVID-19 varian lainnya. Selain itu, Virus Varian Delta ini juga disebut membuat penderita COVID-19 menjadi lebih berpotensi mengalami gejala, jika dibandingkan apabila penderita tersebut terinfeksi virus COVID-19 varian lainnya. Bahkan, gejala yang dialami juga berpotensi lebih berat, sehingga penderita lebih berpotensi membutuhkan perawatan di rumah sakit.
 
Bagaimana pengaruh Virus Varian Delta kepada anak-anak?
Sekali lagi, berdasarkan data statistik yang dihimpun dari berbagai daerah dan negara, jumlah penderita COVID-19 usia anak (0 – 18 tahun) ditemukan lebih banyak setelah kemunculan dari Virus Varian Delta ini. Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A, FAAP, FRCPI selaku ketua IDAI bahkan menyebutkan kalau tingkat kematian penderita COVID-19 usia anak di Indonesia mencapai 3 – 5%, di mana, 50% di antaranya adalah penderita usia balita. Selain itu, beliau juga mengungkapkan bahwa tingkat kematian penderita COVID-19 usia anak di Indonesia ini tertinggi jika dibandingkan dengan negara lainnya. Inilah yang menyebabkan penanganan COVID-19 di Indonesia semakin menjadi suatu urgensi.
 
Nah, bagaimana kita menanggapi ancaman COVID-19 pada anak?

Hal yang pertama yang harus kita lakukan adalah kita harus memastikan bahwa imunitas anak-anak kita berada dalam kondisi yang baik. Seperti yang telah kita ketahui, sistem kekebalan tubuh manusia terdiri dari sistem kekebalan tubuh non-spesifik dan sistem kekebalan tubuh spesifik. Untuk sistem kekebalan tubuh non-spesifik mengacu kepada sistem kekebalan tubuh yang mampu membantu tubuh kita untuk memerangi segala penyakit. Sistem kekebalan tubuh non-spesifik ini dapat terbentuk melalui pemberian nutrisi yang baik, istirahat yang cukup, serta menerapkan pola hidup sehat lainnya.
 
Sementara itu, sistem kekebalan tubuh spesifik adalah imunitas yang hanya memerangi suatu infeksi khusus saja, misalnya, imunitas terhadap cacar hanya mampu memerangi penyakit cacar saja dan imunitas terhadap hepatitis hanya mampu memerangi penyakit hepatitis saja. Untuk imunitas spesifik ini hanya bisa terbentuk jika seseorang pernah mengalami infeksi serupa sebelumnya, atau pernah menerima vaksinasi yang bertujuan untuk mencegah penyakit tersebut.
 
Untuk bisa mendapatkan perlindungan yang optimal, anak-anak harus memiliki kedua sistem kekebalan tubuh tersebut. Sayangnya, hingga saat ini, belum ada vaksin COVID-19 di Indonesia yang dinyatakan aman dan layak diberikan kepada anak-anak. Namun tentunya, masih ada jalan lain untuk menghindarkan anak-anak kita dari ancaman COVID-19.
Pada dasarnya, Virus Varian Delta atau virus COVID-19 varian apapun sebenarnya memiliki metode pencegahan yang sama, yaitu, dengan menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan konsisten. Kita tidak perlu hanya menghindari Virus Varian Delta secara spesifik, karena pada dasarnya kita tidak akan bisa ‘memilih’ akan terpapar dengan virus varian yang mana. Oleh karena itu, kita harus melakukan pencegahan agar terhindar dari paparan virus COVID-19 secara umum. Ingatlah selalu 5M: mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, dan membatasi mobilitas.
 
Hal yang paling penting yang harus diingat adalah kita selaku orang tua akan senantiasa berperan sebagai garda pelindung utama dan pertama anak. Kita yang harus memastikan bahwa lingkungan sekitar anak aman dan kondusif bagi mereka untuk berinteraksi. Dalam hal ini, tentunya tidak mudah bagi semua anak –terutama yang masih berusia sangat muda- untuk bisa menerapkan protokol kesehatan dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan komitmen dan kebijaksanaan orang tua untuk dapat menjaga anak-anaknya dari potensi paparan virus COVID-19. Hal ini dapat dilakukan melalui beberapa hal, seperti menjaga interaksi anak hanya dengan orang serumah saja, serta tidak membawa anak untuk berpergian ke tempat publik atau kerumunan.
 
Hal lain yang patut dipahami adalah bagaimana kita dapat mengenali tanda dan gejala COVID-19 pada anak. Sebaik apapun kita menjaga anak-anak kita, akan selalu ada kemungkinan bahwa mereka dapat terpapar dan akhirnya terinfeksi COVID-19. Memang hal tersebut ingin kita hindari, namun, paling tidak kita dapat mengenali tanda dan gejala COVID-19 pada anak secara dini, sehingga jikapun mereka terinfeksi, mereka dapat tertangani dengan baik karena infeksinya teridentifikasi secara dini.
 
Berikut adalah beberapa tanda dan gejala COVID-19 yang umum dialami oleh anak:
  • Demam atau meriang
  • Batuk
  • Hidung tersumbat atau pilek
  • Hilangnya kemampuan membau (anosmia)
  • Nyeri tenggorokan, terutama saat menelan
  • Sesak nafas, kesulitan bernafas, atau nyeri saat menarik nafas
  • Diare
  • Mual dan muntah
  • Nyeri perut
  • Kelelahan
  • Nyeri kepala
  • Nyeri otot atau pegal-pegal
 
Walaupun tanda dan gejala COVID-19 pada anak telah disebutkan sebagaimana di atas, kita harus mengingat bahwa tidak semua anak paham dan bisa mengungkapkan apa yang mereka rasakan, terutama anak-anak yang masih berusia sangat dini dan belum dapat berbicara atau berkomunikasi dengan baik. Oleh karena itu, sering kali orang tua hanya merasa dan melihat kalau anaknya rewel, gelisah, atau nafsu makannya berkurang, sebelum pada akhirnya si anak terkonfirmasi positif menderita COVID-19. Inilah kondisi yang harus kita waspadai, dan memang sebaiknya di kondisi pandemi ini kita bisa memberikan perhatian lebih kepada kondisi kesehatan anak kita, terutama, apabila anak kita juga menderita penyakit komorbid tertentu. Sehingga, apabila terjadi perubahan sekecil apapun itu, kondisi tersebut dapat segera teridentifikasi dan tertangani dengan baik.
 
Jika ancaman COVID-19 pada anak sedemikian dahsyatnya, apa yang harus kita lakukan untuk melindungi anak-anak kita?
Hal yang dapat kita lakukan adalah mengajarkan dan membantu anak untuk memahami pentingnya penerapan protokol kesehatan di masa pandemi ini. Kita dapat mengajari mereka dimulai dengan hal yang sederhana, seperti bagaimana mereka harus rutin mencuci tangan, menggunakan masker saat keluar rumah atau berinteraksi dengan orang lain, serta membatasi aktivitas di luar rumah dan interaksi dengan orang lain. Memang, kondisi pandemi ini akan sangat membingungkan dan membuat anak merasa tidak nyaman. Tidak akan mudah bagi mereka untuk memahami kalau hanya rumah sajalah tempat teraman mereka untuk saat ini. Tidak akan mudah juga bagi kita untuk mencegah dan menjelaskan kepada anak-anak kita, mengapa mereka tidak boleh dulu berinteraksi dan bermain dengan teman-temannya.
 
Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah kita juga harus melindungi diri kita sendiri. Tidak bisa jika kita hanya melindungi anak kita, namun kita berpotensi tinggi untuk terpapar infeksi. Oleh karena itu, kita pun juga harus senantiasa menerapkan protokol kesehatan dengan baik dan konsisten, termasuk di antaranya menahan dan membatasi diri untuk tidak ikut serta berkegiatan di luar rumah, jika tidak dalam kondisi yang sangat terpaksa.
 
Hal lain yang juga dapat dilakukan adalah dengan berpartisipasi dalam tracing kasus COVID-19 di lingkungan sekitar kita. Jangan ragu atau takut untuk melakukan pemeriksaan apabila ternyata kita berisiko terpapar virus COVID-19. Jangan hanya karena kita takut dan khawatir apa jadinya apabila nantinya kita terkonfirmasi positif COVID-19. Jangan khawatir karena stigma, dan jangan termakan oleh hoax. Ingatlah selalu, tanggung jawab kita bukan hanya atas diri kita saja, melainkan juga kepada keselamatan, kesehatan, dan masa depan anak-anak kita. Be a smart and responsible parent, lebih baik lebai, dibanding abai!
 
Stay safe and healthy, semuanya!
 
 
***

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id