27 March 2026 61
Reasuransi Jiwa

Campak Kembali Mengancam: Tren Insidensi di Indonesia dan Potensi Wabah di Masa Mendatang

Campak (measles) merupakan salah satu penyakit infeksi virus yang sangat menular, dan ternyata masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meskipun vaksin campak telah tersedia selama beberapa dekade dan terbukti sangat efektif, penyakit ini belum sepenuhnya hilang. Dalam beberapa tahun terakhir bahkan terlihat kecenderungan peningkatan kasus di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang memunculkan kekhawatiran terhadap potensi kejadian wabah di masa mendatang.

Dilansir dari website World Health Organization (WHO), campak dinyatakan sebagai penyakit virus yang menular melalui udara dan dapat menyebabkan komplikasi serius seperti pneumonia, radang otak (encephalitis), hingga kematian. Fatalitas akibat penyakit campak dapat terjadi terutama pada anak kecil dan individu dengan sistem imun yang lemah. Siapa pun yang belum memiliki kekebalan—baik karena belum pernah divaksinasi maupun belum pernah terinfeksi sebelumnya—sangat berisiko tertular penyakit ini.

Campak disebabkan oleh virus dari genus Morbillivirus yang menyebar melalui droplet pernapasan ketika seseorang yang terinfeksi mengalami batuk, bersin, atau berbicara. Virus ini sangat mudah menular dan bahkan dapat bertahan di udara atau permukaan selama beberapa waktu setelah penderita meninggalkan suatu ruangan.

Sebagaimana penyakit virus pada umumnya, campak memiliki masa inkubasi yaitu jeda waktu antara seseorang terpapar virus dengan munculnya gejala klinis pertama. Masa inkubasi campak sendiri berkisar antara 10 – 14 hari, yang artinya, gejala campak biasanya muncul sekitar 10 – 14 hari setelah penderita terpapar virus. Pada tahap awal, gejala campak sering menyerupai penyakit flu, antara lain demam tinggi, batuk, pilek, serta mata merah dan berair. Setelah beberapa hari, barulah muncul ruam kemerahan yang biasanya dimulai dari wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Selain itu, salah satu gejala yang cukup khas pada campak adalah kemunculan bintik putih kecil di dalam mulut yang dikenal sebagai Koplik spots.

Campak sering dianggap sebagai penyakit anak-anak, namun sebenarnya dapat menyerang semua kelompok usia. Dalam beberapa kasus, orang dewasa yang tidak memiliki kekebalan juga dapat terinfeksi. Pada orang dewasa, gejala campak sering kali tidak khas pada tahap awal sehingga diagnosis dapat terlambat alias tersamar menjadi penyakit virus lainnya. Selain itu, komplikasi pada orang dewasa cenderung lebih berat dibandingkan pada anak-anak, terutama jika penderita memiliki penyakit penyerta atau sistem imun yang lemah.

Pengobatan campak pada umumnya bersifat simptomatik dan suportif, karena hingga saat ini belum tersedia obat antivirus khusus yang secara langsung membunuh virus penyebab campak. Penanganan biasanya bertujuan untuk meredakan gejala dan menjaga kondisi tubuh pasien, antara lain melalui pemberian obat penurun demam, cairan yang cukup untuk mencegah dehidrasi, istirahat yang memadai, serta suplementasi vitamin A yang terbukti dapat menurunkan risiko komplikasi pada anak. Pada kasus tertentu, terutama bila terjadi infeksi bakteri sekunder seperti pneumonia atau infeksi telinga, dokter juga dapat meresepkan antibiotik.

Meskipun sebagian besar penderita campak dapat sembuh dengan perawatan yang tepat, adekuat, dan segera, penyakit campak tetap berpotensi menimbulkan komplikasi serius, seperti pneumonia, diare berat, radang otak (encephalitis), kebutaan, hingga kematian, terutama pada anak kecil, individu dengan sistem kekebalan tubuh lemah, serta orang yang tidak mendapatkan imunisasi. Oleh karena itu, sangat direkomendasikan agar penderita, keluarga, maupun orang di sekitar penderita menganggap penyakit campak sebagai ‘infeksi virus yang ringan’.

Campak yang sempat jarang menimbulkan wabah selama beberapa dekade kini insidensinya kembali meningkat pada akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026 ini. WHO dan Centers of Disease Control and Prevention (CDC) bahkan memperkirakan bahwa sekitar 10,3 juta orang terinfeksi campak pada tahun 2023, dan data tersebut terus meningkat hingga awal tahun 2026 ini.

Salah satu penyebab terbesar kebangkitan kembali campak adalah turunnya cakupan imunisasi selama Pandemi COVID-19. Banyak program imunisasi rutin menjadi ‘terganggu’, sehingga jutaan anak tidak menerima vaksin campak tepat waktu. Akibatnya terbentuk populasi besar anak yang tidak memiliki kekebalan terhadap virus ini. Padahal, untuk mencegah penularan campak diperlukan cakupan vaksinasi sekitar 95% agar tercapai herd immunity. Penurunan kecil saja dalam angka vaksinasi dapat menyebabkan lonjakan kasus karena virus campak sangat mudah menular.

Campak sendiri termasuk salah satu penyakit paling menular dengan angka reproduksi dasar (R0) sekitar 12–18, yang berarti bahwa satu penderita dapat menularkan penyakit kepada banyak orang yang tidak memiliki kekebalan. Karena sifatnya sangat menular, wabah dapat muncul kembali dengan cepat ketika tingkat imunisasi menurun.

Disrupsi program imunisasi juga dapat menyebabkan peningkatan jumlah individu yang rentan pada suatu negara atau daerah. Ketika beberapa tahun berturut-turut anak-anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap, jumlah individu yang rentan cenderung akan terus meningkat. Ketika suatu virus kembali masuk ke komunitas tersebut, penularan dapat terjadi secara cepat dan memicu wabah. Kondisi ini disebut sebagai ‘immunity gap’, yaitu kesenjangan kekebalan dalam populasi.

Hal yang tak kalah penting pada penularan suatu virus adalah peningkatan mobilitas masyarakat. Mobilitas global yang tinggi juga mempercepat penyebaran virus lintas negara. Karena campak sangat menular, satu kasus yang dibawa oleh pelaku perjalanan dapat dengan cepat memicu penularan di komunitas yang cakupan vaksinasinya rendah.

Selain itu, di beberapa negara, meningkatnya misinformasi atau keraguan terhadap vaksin juga berkontribusi terhadap menurunnya angka imunisasi. Jika masyarakat menolak vaksin atau menunda imunisasi anak, maka tingkat perlindungan komunitas akan melemah dan virus dapat kembali menyebar.

Sayangnya, misinformasi dan keraguan terhadap imunisasi ini juga masih banyak ditemukan di Indonesia.
Indonesia termasuk negara yang masih menghadapi tantangan dalam pengendalian campak. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa sepanjang tahun 2025 terdapat 63.769 kasus suspek campak, dengan 11.094 kasus terkonfirmasi laboratorium dan 69 kematian. Kabupaten Sumenep, Madura tercatat sebagai salah satu daerah dengan fatalitas campak tertinggi, di mana data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa 20 anak meninggal dunia sejak Februari hingga Agustus 2025 di kabupaten tersebut. Kondisi tersebut menjadi alarm bagi otoritas kesehatan untuk segera mengambil langkah penanganan cepat, salah satunya melalui program imunisasi massal di wilayah terdampak.

Memasuki tahun 2026, tren kasus masih perlu diwaspadai. Hingga minggu ke-7 tahun 2026 tercatat 8.224 kasus suspek campak, 572 kasus terkonfirmasi, dan 4 kematian akibat campak di Indonesia. Pada periode yang sama juga tercatat 21 kejadian luar biasa (KLB) suspek campak dan 13 KLB campak terkonfirmasi yang tersebar di 17 kabupaten/kota di 11 provinsi.

Lonjakan kasus ini menunjukkan bahwa campak masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia. Bahkan, beberapa daerah pernah mengalami wabah lokal yang menyebabkan kematian, terutama pada anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi. Rendahnya cakupan vaksinasi di beberapa wilayah menjadi salah satu faktor yang memperburuk situasi ini.

Selain itu, periode libur dan cuti bersama Lebaran turut berpotensi meningkatkan risiko penyebaran campak karena tingginya mobilitas masyarakat yang terjadi selama tradisi mudik dan kegiatan silaturahmi.

Perpindahan jutaan orang dari kota ke berbagai daerah dalam waktu yang relatif singkat dapat mempercepat penyebaran virus dari wilayah yang memiliki kasus campak ke daerah lain yang sebelumnya relatif aman. Kegiatan berkumpul dalam keluarga besar, interaksi yang intens dengan anak-anak, serta kunjungan ke rumah kerabat atau tetangga dapat meningkatkan peluang penularan, mengingat virus campak sangat mudah menyebar melalui percikan pernapasan di ruang tertutup atau dalam kerumunan.

Kondisi ini menjadi semakin berisiko apabila terdapat anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap atau individu yang belum memiliki kekebalan terhadap virus campak. Oleh karena itu, momentum menjelang dan selama periode Lebaran perlu disertai dengan kewaspadaan masyarakat, terutama dengan memastikan status imunisasi anak telah lengkap serta meningkatkan kesadaran untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila muncul gejala yang mengarah pada campak.

Cara paling efektif untuk mencegah campak adalah melalui imunisasi. Vaksin campak—yang biasanya diberikan dalam bentuk vaksin kombinasi seperti MMR (measles, mumps, rubella)—memiliki tingkat efektivitas sekitar 97% setelah dua dosis. Selain imunisasi, langkah pencegahan lain yang penting antara lain memastikan anak menerima vaksin sesuai jadwal, meningkatkan kesadaran masyarakat tentang gejala dan cara penularan campak, memperkuat sistem deteksi dini dan pelaporan kasus, serta melakukan respons cepat terhadap kejadian luar biasa (KLB)

Pada akhirnya, kita harus mengingat bahwa campak merupakan penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi, namun masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di banyak negara, termasuk Indonesia. Peningkatan jumlah kasus dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa pengendalian campak memerlukan upaya berkelanjutan dari pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Dengan memperkuat cakupan imunisasi, meningkatkan kesadaran masyarakat, serta memperbaiki sistem surveilans penyakit, Indonesia dapat mengurangi risiko terjadinya wabah campak dan melindungi kelompok masyarakat yang paling rentan terhadap penyakit ini.
 
***

 

Penulis

dr. Laras Prabandini Sasongko, AAAIJ

Email: laras@indonesiare.co.id